kawulo

Foto Saya
PUTRA WAROCK PONOREOG
Jl.Bromo no:38A,Rt 03 Rw 01 Dsn Caru Ds Bajang Kec. Mlarak.Kab.Ponorogo, jawa timur, Indonesia
TEBARKAN PESONA CIPTAKAN SEMANGAT DIRI
Lihat profil lengkapku

SING MELU

Tampilkan postingan dengan label KEJAWEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEJAWEN. Tampilkan semua postingan

PUNOKAWAN

hadirnya Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga tidak sendirian. Ia ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk, Bagong. Ke empat abdi tersebut dinamakan Panakawan. Dapat disaksikan, hampir pada setiap pegelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang ksatria keturunan Saptaarga diikuti oleh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Cerita apa pun yang dipagelarkan, ke lima tokoh ini menduduki posisi penting. Kisah Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Saptaarga atau pertapaan lainnya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan tapa ngrame. (menolong tanpa pamrih).

Dikisahkan, perjalanan sang Ksatria dan ke empat abdinya memasuki hutan. Ini menggambarkan bahwa sang ksatria mulai memasuki medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar, banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika lengah dapat mengacam jiwanya. Namun pada akhirnya Ksatria, Semar, Gareng, Petruk, Bagong berhasil memetik kemenangan dengan mengalahkan kawanan Raksasa, sehingga berhasil keluar hutan dengan selamat. Di luar hutan, rintangan masih menghadang, bahaya senantiasa mengancam. Berkat Semar dan anak-anaknya, sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.

Mengapa peranan Semar dan anak-anaknya sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan? Sudah dipaparkan pada dua tulisan sebelumnya, bahwa Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia. Untuk lebih memperjelas peranan Semar, maka tokoh Semar dilengkapi dengan tiga tokoh lainnya. Ke empat panakawan tersebut merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih. Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta. Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa kewaspadaan, tangan cekot adalah rasa ketelitian dan kaki pincang adalah rasa kehati-hatian. Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Sedangkan karya disimbolkan Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya selalu bersedia bekerja keras. Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karya berada dalam satu wilayah yang bernama pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria. Gambaran manusia ideal adalah merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya dapat menempati fungsinya masing-masing dengan harmonis, untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian menjadi jelas bahwa antara Ksatria dan panakawan mempunyai hubungan signifikan. Tokoh ksatria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus (rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).

Simbolisasi ksatria dan empat abdinya, serupa dengan ‘ngelmu’ sedulur papat lima pancer. Sedulur papat adalah panakawan, lima pancer adalah ksatriya. Posisi pancer berada ditengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil). Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia (sangkan paraning dumadi). Awal mula manusia diciptakan di awali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (bayi, dalam konteks ini adalah pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan Kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin, untuk melindungi si bayi, agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah. Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil.

Ngelmu sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa, manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Pancer adalah suksma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya suksma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan.
Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan, digambarkan dengan seorang sais mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah melambangkan energi, semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani dan kuda putih melambangkan keheningan, kesucian. Sebagai sais, tentunya tidak mudah mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerjasama dengan ke empat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir. Sang Sangkan Paraning Dumadi.

TOKOH punakawan yang terdiri atas Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong, adalah tokoh-tokoh yang selalu ditunggu-tunggu dalam setiap pergelaran wayang di Jawa. Sebenarnya, dalam cerita wayang yang asli dari India tidak ada tokoh punakawan. Punakawan hanyalah “bahasa halus” dan “bahasa komunikatif” yang diciptakan oleh para sunan/wali di tanah Jawa. Para tokoh punakawan dibuat sedemikian rupa medekati kondisi masyarakat Jawa yang beraneka ragam. Para Wali dalam penyebaran agama Islam selalu melihat kondisi masyarakat–baik dari adat istiadat maupun dari budaya yang berkembang saat itu. Wayang merupakan suatu media efektif untuk menyampaikan misi ini. Namun, para wali memandang bahwa cerita wayang yang diusung dari negara asalnya, India, ternyata banyak yang berbau Hindu, animisme, dan dinamisme. Mereka juga melihat pakem wayang India tersebut kurang komunikatif. Masyarakat hanya diminta duduk diam melihat sang dalang memainkan lakonnya. Tentu tidak semua orang mau untuk menikmati adegan demi adegan semacam ini semalam suntuk. Maka, para wali menciptakan suatu tokoh yang sekiranya mampu berkomunikasi dengan penonton, lebih fleksibel, mampu menampung aspirasi penonton, lucu, dan yang terpenting, dalam memainkan para tokoh punakawan ini sang dalang dapat lebih bebas menyampaikan misinya karena tidak harus terlalu terikat pada pakem.

Tokoh punakawan dimainkkan dalam sesi gara-gara. Jika diperhatikan secara seksama ada kemiripan dalam setiap pertunjukan wayang antara satu lakon dan lakon yang lain. Pada setiap permulaan permainan wayang biasanya tidak ada adegan bunuh-membunuh antara tokoh-tokohnya hingga lakon gara-gara dimainkan. Mengapa? Dalam falsafah orang Jawa, hal ini diartikan bahwa janganlah emosi kita diperturutkan dalam mengatasi setiap masalah. Lakukanlah semuanya dengan tenang, tanpa pertumpahan darah, dan utamakan musyawarah. Cermati dulu masalah yang ada, jangan mengambil kesimpulan sebelum mengetahui masalahnya. Ketika lakon gara-gara selesai dimainkan, barulah ada adegan yang menggambarkan peperangan dan pertumpahan darah. Itu dapat diartikan bahwa jika musyawarah tidak dapat dilakukan maka ada cara lain yang dapat ditempuh dalam menegakkan kebenaran. Dalam Islam pun, setiap dakwah yang dilakukan harus menggunakan tahap-tahap yang tidak berbeda dengan tahap-tahap yang ada dalam dunia perwayangan ini. Dalam mengajak pada kebenaran/mencegah kemungkaran, para pendakwah awalnya harus memberi peringatan (Bi Lisani) dengan baik; jika tidak mau, beri peringatan dengan keras; jika tidak mau, kita dapat menggunakan kemampuan maksimal kita dalam mengupayakan penegakan kebenaran (termasuk Jihad, mungkin). Nah, lakon gara-gara jelas sekali menggambarkan atau membuka semua kesalahan, dari yang samar-samar kelihatan jelas.Ini merupakan suatu hasil dari sebuah doa yang terkenal Allahuma arinal Haqa-Haqa warzuknat tibaa wa’arinal bathila-bathila warzuknat tinaba. [Ya Allah tunjukilah yang benar kelihatan benar dan berilah kepadaku kekuatan untuk menjalankannya, dan tunjukilah yang salah kelihatan salah dan berilah kekuatan kepadaku untuk menghindarinya. Semua menjadi jelas mana yang benar dan yang salah. Hingga akhir dari cerita wayang, para tokohnya yang berada di jalur putih akan memenangkan pertempuran melawan kejahatan, setelah benar-benar mengetahui mana jalan yang benar dan mengerti masalahnya.

Makna nama tokoh

Apa makna yang terkandung dalam setiap tokoh punakawan ini? Mari kita amati satu persatu:

Semar: aslinya tokoh ini berasal dari bahasa arab Ismar. Dalam lidah jawa kata Is–biasanya dibaca Se. Ambillah contoh Istambul menjadi Setambul. Ismar berarti paku. Tokoh ini dijadikan pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada atau sebagai. Advicer dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Paku di sini dapat juga difungsikan sebagai pedoman hidup, pengokoh hidup manusia. Apa pengokoh hidup manusia itu? Tidak lain adalah agama. Sehingga, semar bukanlah tokoh yang harus dipuja, tapi penciptaan semar hanyalah penciptaan simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.

Nala Gareng: juga diadaptasi dari kata Arab Naala Qariin. Dalam pengucapan lidah jawa pula kata Naala Qariin menjadi Nala Gareng. Kata Naala Qariin, artinya memperoleh banyak teman, ini sesuai dengan dakwah para wali sebagai juru dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya teman (umat) untuk kembali kejalan Allah SWT dengan sikap arif dan harapan yang baik.

Petruk: diadaptasi dari kata Fatruk. Kata ini merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan Tasawuf yang berbunyi: Fat-ruk kulla maa siwallahi, yang artinya: tinggalkan semua apa pun selain Allah.Wejangan tersebut kemudian menjadi watak para wali dan mubalig pada waktu itu. Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong artinya kantong yang berlobang. Maknanya bahwa setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah SWT secara ikhlas, tanpa pamrih dan ikhlas, seperti bolongnya kantong yang tanpa penghalang.

Bagong: berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Yaitu berontak terhadap kebatilan dan keangkaramurkaan. Dalam versi lain kata Bagong berasal dari Baqa’ yang berarti kekal atau langgeng, artinya semua manusia hanya akan hidup kekal setelah di akhirat nanti. Dunia hanya diibaratkan mampir ngombe (sekadar mampir untuk minum).

Para tokoh punakawan juga berfungsi sebagai pamomong (pengasuh) untuk tokoh wayang lainnya. Pada prinsipnya setiap manusia butuh yang namanya pamomong, mengingat lemahnya manusia. Pamomong dapat diartikan pula sebagai pelindung. Tiap manusia hendaknya selalu meminta lindungan kepada Allah SWT, sebagai sikap introspeksi terhadap segala kelemahan dalam dirinya. Inilah falsafah sikap pamomong yang digambarkan oleh para tokoh punakawan.

Alangkah disayangkan jika beberapa tokoh punakawan seperti semar dipuja-puji layaknya dewa oleh sebahagian penganut aliran kepercayaan. Padahal jelas sekali semua tokoh yang ada hanyalah merupakan ciptaan para wali untuk menyimbolkan suatu keadaan dalam misi dakwah mereka menyebarkan Islam. Sebagai contoh Semar diceritakan sebagai seorang dewa (bathara Ismaya kakak bathara Guru) yang turun ke bumi dengan menjelma menjadi manusia biasa untuk menjalankan sebuah misi suci. Hal ini sebenarnya cukup tepat untuk menggambarkan cara Allah SWT menurunkan Islam pada umat manusia dengan tidak menghadirkan sosok Allah langsung sebagai Tuhan di muka bumi. Niscaya semua manusia akan menjadi Islam, jika Allah langsung menyebarkan Islam di bumi. Lalu di manakah letak kemerdekaan manusia, jika demikian? Manusia dibiarkan memilih semua ajaran yang ada. Mengingat, manusia diberikan kebebasan untuk menentukan nasibnya kelak di akhirat, sesuai dengan pilihannya di dunia. Maka, sosok Semar sebagai dewa pun harus dijelmakan sebagai sosok manusia dahulu, untuk tetap menjaga kodrat manusia sebagai makhluk yang bebas memilih. Lihatlah pula kata Semar Badranaya. Badra berarti kebahagiaan dan naya berarti kebijaksanaan. Untuk menuju kebahagiaan, yaitu dengan cara memimpin rakyat secara bijaksana dan menggiringnya untuk beribadah kepada Allah SWT. Negara akan stabil jika semar bersemayam di pertapaan Kandang Penyu. Maknanya adalah untuk mengadakan penyuwunan (penyu-) atau permohonan kehadiran Allah SWT. Jelas sekali misi dakwah yang terkandung di sini, yang diceritakan dan diartikan sendiri maknanya oleh sang pembuat yaitu para wali.

READ MORE - PUNOKAWAN

NGELMUNE KYAI PETRUK


Kuncung ireng pancal putih,
Swarga durung weruh,
Neraka durung wanuh,
Mung donya sing aku weruh,

Uripku aja nganti duwe mungsuh.


Ribang bumi ribang nyawa,
Ana beja ana cilaka,
Ana urip ana mati,
Precil mijet wohing ranti,
Seneng mesti susah,
Susah mesti seneng,
Aja seneng nek duwe,
Aja susah nek ora duwe.


Senenge saklentheng susahe sarendheng,
Susah jebule seneng,
Seneng jebule susah,
Sugih durung karuan seneng,
Ora duwe durung karuan susah,
Susah seneng ora bisa disawang,
Bisane mung dirasakake dhewe.

Kapiran kapirun sapi ora nuntun,
Urip aja mung nenuwun,
Yen sapimu masuk angin tambanana,
Jamune ulekan lombok,
Bawang uyah lan kecap,
Wetenge wedhakana parutan jahe,
Urip kudu nyambut gawe.


Pipi ngempong bokong,
Iki dhapur sampurnaning wong,
Yen ngelak ngombea,
Yen ngelih mangana,
Yen kesel ngasoa,
Yen ngantuk turua.

Pipi padha pipi,
Bokong padha bokong,
Pipi dudu bokong,
Onde-onde jemblem bakwan,
Urip iku pindha wong njajan,
Kabeh ora bisa dipangan,
Miliha sing bisa kepangan,
Mula elinga dhandhanggulane jajan.

Pipis kopyor sanggupira lunga ngaji,
Le ngaji nyang be jadah,
Gedang goreng iku rewange,
Kepethuk si alu-alu,
Nunggang dangglem nyengkelit lopis,
Utusane tuwan jenang,
Arso mbedhah ing mendhut,
Rame nggennya bandayudha,
Silih ungkih tan ana ngalah sawiji,
Patinira kecucuran.

Ki Daruna Ni Daruni,
Wis ya, aku bali menyang Giri,
Aku iki Kyai Petruk ratuning Merapi,
Lho ratu kok kadi pak tani?,

READ MORE - NGELMUNE KYAI PETRUK

EMPAT PENDEKAR GAIB SUNAN KALIJAGA

EMPAT PENDEKAR GAIB SUNAN KALIJAGA



Siang dan malam
keempat pendekar gaib ini setia menunggu kita.
Saat genting dan bahaya,
dia menyeret kita ke tempat yang aman.
Saudara penjaga gaib ini bukan jin bukan pula gendruwo.
 
Semakin lama belajar ajaran-ajaran leluhur Jawa, kita akan semakin terkagum-kagum pada para nenek moyang. Ilmu yang mereka ajarkan tidak bertentangan dengan agama, bahkan sesuai dan memperkaya pemahaman agama yang kita anut.
Sayangnya banyak yang masih memandang sebelah mata ajaran para leluhur Jawa ini. Bahkan ada yang menuduhnya sebagai syirik, khurofat dan takhayul. Para penuduh ini mungkin lupa, bahwa ajaran Jawa disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami orang Jawa. Memang, para leluhur kita kadang tidak fasih melafalkan kata-kata Arab. Para leluhur ini juga orang yang masih gagap iptek. Namun, jangan salah sangka dulu.

Dari segi kebijaksanaan, ngelmu batin dan olah rasa para nenek moyang kita dulu bisa diandalkan. Mereka adalah para waskita yang mampu membangun candi Borobudur, Prambanan dan mampu membuat sebuah bangunan dengan ketepatan geometris dan geologis. Tidak kalah oleh nenek moyang bangsa Mesir yang mampu membangun piramida, atau nenek moyang suku Inca, bangsa Peru yang bisa membangun Manchu Picchu.

Saat agama Islam masuk ke nusantara, sementara di Jawa saat itu sudah berkembang agama Hindu, Budha dan berbagai kepercayaan animisme, dinamisme, politeisme. Islam melebur secara pelan dan damai, berasimilasi serta berosmosis tanpa pertumpahan darah. Islam agama damai dan tidak memaksa. Orang Jawa bersifat pasrah, sumeleh, sumarah, ikhlas dan mengandalkan rasa pangrasa. Jadi? Klop sudah!

Bagi orang Jawa, masuknya Agama Islam yang kaya dengan aspek kebatinan (tasawuf) sangatlah tepat. Orang Jawa pun tidak kebingungan dengan ajaran-ajaran mistik yang ada di dalamnya. Namun orang Jawa berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran mistik ini dengan terminologi dan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dimengerti. Harap maklum saja, orang Jawa dulu mayoritas hidup di pedesaan yang sederhana dan tidak banyak berwacana ilmiah.

Salah satu ajaran Kejawen yang membahas tentang adanya malaikat pendamping hidup manusia adalah SEDULUR PAPAT LIMO PANCER. Pancer adalah tonggak hidup manusia yaitu dirinya sendiri. Diri kita dikelilingi oleh empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup kita. Mulai dilahirkan di dunia hingga kita nanti meninggal dunia menuju alam barzakh (alam kelanggengan).

Sebelum hadirnya agama Islam, orang Jawa tidak memahami konsep malaikat. Maka mereka menyebut malaikat penjaga manusia dengan sedulur papat. Konsep “sedulur papat” ini oleh orang Jawa ditamsilkan melalui sebuah pengamatan/niteni.
Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, janin dilindungi di dalam rahim oleh ketuban. Selanjutnya adalah ari-ari, darah dan pusar. Itulah saudara manusia sejak awal dia hidup dan selanjutnya “empat saudara” ini kemudian dikubur. Namun orang Jawa Percaya bahwa “empat saudara” ini tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat.
Karena Air Ketuban adalah yang pertama kali keluar saat ibu melahirkan, orang Jawa menyebutnya SAUDARA TUA. Saudara ini melindungi jasad fisik dari bahaya. Maka ia adalah SANG PELINDUNG FISIK.

Selanjutnya yang lebih MUDA adalah ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin dalam rahim. Ia melingkupi tindakan janin dalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka ia adalah SANG PENGANTAR.

Saudara kita selanjutnya adalah DARAH. Darah ini membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah adalah SARANA DAN WAHANA IRADAT-NYA pada manusia. Darah bisa disebut nyawa bagi janin. Maka, darah disebut dengan PEMBANTU SETIA MANUSIA MENEMUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI HAMBA TUHAN, CERMIN TUHAN (Imago Dei).

Saudara gaib kita terakhir adalah pusar. Menurut pemahaman Kejawen, pusar adalah NABI. Pusar secara biologis adalah tali yang menghubungkan perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Pusar mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu ke bayi. Pusar dengan demikian MENDISTRIBUSIKAN WAHYU “IBU” MANUSIA yaitu Gusti Allah SWT kepada diri kita.

Keempat saudara gaib ini sesungguhnya adalah EMPAT MALAIKAT PENJAGA manusia. Yang berada di kanan-kiri, depan-belakang kita. Maka, tidak salah bila Anda menyapa dan bersahabat akrab dengan mereka. Secara gaib, Tuhan mmeberikan pengajaran tidak langsung kepada hati kita. Namun melalui mereka pengajaran itu disampaikan.

Keempat penjaga (malaikat) itu adalah:
JIBRIL (Penerus informasi Tuhan untuk kita),
IZRAFIL (Pembaca Buku Rencana Tuhan untuk kita),
MIKAIL (Pembagi Rezeki untuk kita) dan
IZRAIL (Penunggu berakhirnya nyawa untuk kita).

Keempat malaikat itu oleh orang Jawa dianggap sebagai SEDULUR karib hidup manusia. Bila kita paham bahwa perjalanan hidup untuk bertemu dengan Tuhan hakikatnya adalah perjalanan menuju “ke dalam” bukan “ke luar”. Perjalanan menembus langit ketujuh hakikatnya adalah perjalanan “diri palsu” menuju “diri sejati” dan menemukan SANG AKU SEJATI, YAITU DIRI PRIBADI/ TUHAN.

Untuk menemukan SANG AKU SEJATI (limo pancer) itulah kita ditemani oleh EMPAT SAUDARA GAIB/MALAIKAT PENUNGGU (sedulur papat). Lantas dimana mereka sekarang? Mereka sekarang sedang mengawasi Anda. Berdzikir mengagungkan asma-Nya. Kita bisa menjadikan mereka sedulur paling akrab bila paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka. Caranya? Pejamkan mata, matikan seluruh aktivitas listrik di otak kiri dan kanan dan hidupkan sang AKU SEJATI yang ada di dalam diri Anda. Ya, hanya diri sendirilah yang mampu untuk berkomunikasi dengan para sedulur gaib nan setia ini.

Bagaimana tidak setia, bila kemanapun kita berada disitu keempatnya berada. Bila kita berjalan, mereka terbang. Bila jasad kita tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita. Maka, saat bangun tidur di siang hari pikiran kita akan merasa fresh sebab ruh kita akan kembali menjejerkan diri kita dengan iradat-Nya. Sayang, saat waktu beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal pikiran semakin tenggelam.

Bagaimana agar hidup kita selalu ingat oleh kehadiran sedulur papat ini yang setia menjaga kita? Sunan Kalijaga memiliki kidung bagus:
Ana kidung akadang premati
Among tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane
Kakang kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakaken sedya
Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anekaken pangarah
Ponang getih ing rahina wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken karsane
Puser kuwasanipun
Nguyu uyu sambawa mami
Nuruti ing panedha
Kuwasanireku
Jangkep kadang ingsun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang

(Ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.

Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah empat saudara itu. Kelimanya seagai pusat sudah jadi satu. Manunggal dalam perwujudan saya saat ini)
READ MORE - EMPAT PENDEKAR GAIB SUNAN KALIJAGA

SUNGSANG BAWANA BALIK

Sebelum perang dunia II yang berarti “Alam semesta terjungkir balik”. Isi cerita tersebut dianggap pula sebagai Ilmu Kesempurnaan Hidup (Ngelmu Kasampurnan). Pencipta cerita itu ialah Ks. Wiryasusastra. Ajaran ini yang terkandung didalamnya khusus meliputi mahkluk hidup pada umumnya, dan manusia pada khususnya, dengan maksud memberi petunjuk jalan kepada umat manusia dalam usahanya mencapai kesempurnaan hidup. Satu sama lain digambarkannya secara plastis (dengan sesuatu wujud), sesuai dengan keadaan wajar dalam masyarakat (Jawa), sebagai berikut :
Dalam lukisan tersebut yang memegang peranan penting, peranan utama, ialah Rahsa Jati (le moi subti), yang mewujudkan “asas Ketuhanan Yang Maha Esa” (Goddelyk levensbeginsel atau Wiji), ataupun “Rahasia Hidup”. Seolah-olah Rahsa jati itu merupakan seorang manusia. Dalam pada itu “Jati” berarti hidup yang menghidupkan. Rahasia dan hidup (jati) itu baik, dialam fana maupun baka, satu sama lain tak dapat dipisahkan. Tegasnya pengertian yang satu tak dapat dipisahkan daripada pengertian yang lain. Senantiasa berdampingan satu sama lain. Dengan perkataan lain hidup itu pada hakekatnya selalu diliputi oleh, atau sama nilainya dengan rahasia!. Sedangkan tiap rahasia, yaitu tiap hal yang belum atau tidak diketahui, sedikit banyak selalu berdaya dan berlaku menurut kodrat alam. Sebagai perangsang membangkitkan semangat, menggerakkan pelbagai hasrat sehingga menjadi sesuatu kegiatan kearah terbukanya rahasia bersangkutan. Tegasnya menyadari hal-hal yang tersembunyi dibelakang rahasia tersebut. Secara wajar atau tidak, ataupun bersifat batiniah belaka.
Paling sedikit pada umat manusia peristiwa itu merupakan salah satu sifat yang khas. Perangsangan adalah suatu hal yang esensiil terhadap hidup. Tiada hidup tanpa perangsangan ! Dalam hubungan ini kiranya, dapat dikemukakan pula; bahwa kegiatan/pergerakan (pada manusia) itu merupakan salah satu keistimewaan (essentialia) hidup. Falsafah hidup menurut konsepsi Wiryasusastra tersebut ternyata sangat mirip dengan yang diilhami oleh falsafah hidup bangsa Arab, dalam hal ini menurut ajaran Agama Islam, sebagai berikut :
I. Pada suatu hari oleh sang Jati dengan para pembantu utamanya, antara lain patih “rahsajati” dan para menteri bupati “Sukma Wisesa”, “Sukma Purba”, Sukma Langgeng”, dan “Sukma Luhur”, dimusyawarahkan kebijaksanaan terbaik yang harus diambil demi penyebaran “Wiji” (benih) atau asas hidup itu.
Keempat tokoh tersebut diatas bersama menguasai yang disebut “Alam Papat” (lihat bagan). Dalam perinciannya masing-masing menguasai nafsu luawamah, amarah, mutmainah dan supiah, dibawah pimpinan dan pengawasan Rahsajati atau mulhimah. Dalam kesusastraan Jawa terkenal dengan “Sedulur Papat Lima Pancer”.
Sementara itu dalam musyawarah tersebut diambil kesimpulan untuk mengirim Rahsajati beserta keempat menteri bupatinya tadi kebumi (dunia fana) guna melaksanakan tujuan tersebut diatas.
Kemudian Sang Jati mengundurkan diri kembali keistananya.
Dalam perjalanannya kebumi selanjutnya mereka yang bertugas terpaksa melintasi wilayah kediaman para Jin (badan halus, lelembut) dalam hal ini berarti rintangan, hambatan, godaan, dsb. Wilayah itu dalam kesusastraan Arab dinamakan kediaman Malaikat, bidadara dan bidadari, yang dalam kesusastraan Arab disebut Alam hidayat, Alam nuriyah dan Alam Siriyah. Alam-alam tersebut meliputi “Alam Sipat Loro” (bhs Jawa), yang dalam kesusastraan Arab disebut Ashadhu’anna dan Waashadhu’anna.
Stelah meninggalkan “Alam” tersebut tibalah mereka dalam Alam ruhiyah dan Alam jawaliyah, yang dalam kesusastraan jawa disebut “Alam Telu”. Pada tempat ini mereka berhenti sejenak. Dalam kesempatan ini itu mereka mulai membentuk sebuah tabir. Guna keperluan mereka kelima bersama. Bahan-bahan bangunannya terdiri dari zat-zat (essenties) yang diperlukannya dari keempat unsur poko hidup. Dalam hal ini bumi (bantala), api (agni), angin (udaka) dan air (tirta).
Setelah karya tersebut selesai mereka meneruskan perjalanannya, melalui sifat kamal, jamal, jalal dan sifat kahar. Sifat-sifat ini bersama dalam kesusastraan Jawa dinamakan “Sipat Papat” menuju kearah alam nasut, malakut, jabarut dan Alam lahut. Sifat-sifat atau alam-alam ini dalam “Ilmu Kejawen” terkenal sebagai Alam Papat.
Menurut Kanjeng Sunan Kalijaga alam-alam tersebut dalam “Ilmu Kejawen” terkenal sebagai “Alam Papat”. Kelak akan dialami setiap orang dalam akhirat. Makananya sajan rasa, “Alam Papat” itu bersifat “langgeng” atau abadi, dalam hal ini tidak berubah lagi sedikitpun juga, sepanjang masa. Pengertian itu tergolong pada kerohanian, bersifat mujarad, mengandung pengertian Ketuhanan Yang Maha Esa.
Alam Papat tersebut diatas, menurut pandangan hidup suku bangsa Jawa kuno, terdiri atas :

1.
Alam rohiyah atau Alam hidayat. Dikuasai oleh nyawa, jiwa (ziel, soul).
2.
Alam Suriyah atau Alam Nasut (berarti kelalaian). Dikuasai oleh perasaan atau sifat Lauwamah, Amarah, Supiah dan Mutmainah.
3.
Alam nuriyah, dalam 2 (dua) tingkat (nuriyah dan nuriyah luhur). Dikuasai oleh Pramana dan atau Hidayat, yang berarti kewaspadaan dan petunjuk. Didalamnya termasuk Alam Iskat, yang dikuasi oleh syahwat atau libido sexual.
4.
Alam uluhiyah. Dalam 3 (tiga) tingkat : Uluhiyah, Uluhiyah Luhur dan Uluhiyah yang paling luhur. Dikuasai oleh rasa Ketuhanan Yang Maha Esa. Tingkat hidup ini pada lain kesempatan disebut pula Makrifating makrifat.

Kemudian perjalanan “para utusan” tersebut diatas (=roh) langsung menuju ke-Alam aba’iyya (Alam akhadiyat), wabda (Alam wahdat), wahidirya (Alam wakhidiyat), arwah (Alam arwah), mitsal (Alam misal), ajsam (Alam ajsam), insan kamil (manusia sempurna). Alam-alam ini bersama dalam kesusastraan Jawa disebut “Alam Pitu”.
Jalan yang terkhir itu melalu daerah tandus, hutan rimba belantara, sambil mendaki gunung yang penuh dengan jurang dan lereng, yang dalam atau tidak dalam, besar kecil. Arti kiasannya ialah pelbagai rintangan, tantangan dan kesulitan yang harus diatasi selama hidupnya. Dengan perkataan lain jalan itu pada galibnya (ataukah harus), mau tidak mau, melalui perjuangan yang hebat.
Jalan melalui “Alam Pitu” itu menuju kearah sebuah gua yang penuh dengan berbagai rahasia.
Gua tersebut memperlambangkan “Hubungan Antara Kelamin” (antara pria dan wanita), yang penuh diliputi hal-hal yang pada hakekatnya kerapkali merupakan suatu tanda tanya besar (rahasia).
Pada suatu ketika Rahsajati dan rombongan masuk kedalam gua tersebut. Saat ini memperlambangkan titik persetubuhan tatkala sang alat kelamin laki-laki (penis) melintasi pinti gerbang luar liang peranakan (introitus vaginae). Saat itu dinamakan “Jayengdriya” (bhs Jawa), dalam bahasa Arab Bait al-mukadas, yang berarti “peningkatan, pemusatan atau penguasaan pancaindra kita” (titil timbulnya puncak syahwat = orgasme).
Dalam gua tersebut “para utusan” tadi melintasi berbagi jalan yang satu sama lain sejajar letaknya. Jalan-jalan tersebut bersambung satu sama lain dengan 20 buah pintu berganda !. Nama-nama jalan tersebut masing-masing sama dengan nama SIFAT KETUHANAN YANG MAHA ESA (dalam bahasa Jawa : Sifat rongpuluh), yaitu :
1. Wujud, 2. Qidam, 3. Baqa, 4. Muhalafalil Hawadis, 5.Qiyamuh Binafsihi, 6. Wahda Niyat, 7. Qodrat, 8. Irodat, 9. Ilmu, 10. Hayat, 11. Samak, 12. Bashar, 13. Qalam, 14. Qadiran, 15. Muridan, 16. Aliman, 17. Hayan, 18. Samian, 19. Basiran, 20. Mutakalinan.
Dipandang sepintaslalu pernyataan tersebut diatas itu bertentangan dengan pengertian “TAN KENA KINAYA NGAPA”! ada sifatnya, tetapi tidak ada wujudnya, misalnya ! Mungkinkah ini????.
Menurut “Ilmu Kejawen” (Serat Wirid Hidayat Jati) SIPAT DUA PULUH itu meliputi :
~SATU~

1.
Allah (Tuhan Yang Maha Esa atau Tuhan Yang Maha Suci), dalam hal ini berarti “Hidup yang menghidupkan segenap makhluk hidup”.
2.
Kun (bhs Arab), berarti firman Tuhan.
3.
Nukat gaib, berarti “Benih yang bersifat rahasia”.

~DUA~

1.
Dzat, berarti intisari (essence) (Tuhan Yang Maha Esa).
2.
Sifat (bhs Jawa), berarti warna atau cahaya (Tuhan Yang Maha Esa).
3.
Asma, berarti nama, julukan Tuhan Yang Maha Esa.
4.
Angpal, berarti budipekerti Tuhan Yang Maha Esa.

~TIGA~

1.
Dzat mutelak, berarti jasad atau badan wadag.
2.
Dzat subekti, berarti jiwa (roh, badan halus).
3.
Dzat Salikin, berarti perasaan.
4.
Dzat suhud, berarti nukad gaib (=sub 1c).

~EMPAT~

1.
Kahar atau agung, berarti segala keluhuran insani.
2.
Jalal atau elok, berarti “tiada bandingnya” perihal sifat kelaminnya. Dalam artkata “bukan pri, bukan wanita, bukan banci”. (Sukar dibayangkan untuk dan oleh seorang manusia biasa).
3.
Jamal atau wisesa, berarti “nartani” (bhs Jawa) = segala keadaan.
4.
Kamal atau sempurna, berarti sempurna budipekertinya, menimbulkan keadaan yang wajar.

~LIMA~

1.
Alam nasut, berarti alam jasad atau jasmani (=wajar).
2.
Alam malakut, berarti alam jiwa atau rohani.
3.
Alam jabarut, berarti rasa.
4.
Aalam lahut, berarti Cahaya/Pamor (=Tuhan Yang Maha Esa).

~ENAM~

1.
Wujud, berarti badan.
2.
Ilmu, berarti rasa.
3.
Nur, berarti cahaya.
4.
Suhud, berarti sempurna.

~TUJUH~

1.
Nur, berarti Cahaya (Tuhan Yang Maha Esa).
2.
Sir, berarti rasa.
3.
Roh, berarti jiwa atau nyawa (bhs Jawa).
4.
Jasad, berarti badan.

~DELAPAN~

1.
Mutmainah, dinamakan pula “Nafsu Putih”, ialah lambang hidung atau alat pembau lainnya.
2.
Supiah, dinamakan pula “Nafsu Kuning”, lambang mata atau alat penglihatan lainnya.
3.
Amarah, dinamakan pula “Nafsu Merah”, lambang telinga atau alat pendengar lainnya.
4.
Lauwamah, dinamakan pula “Nafsu Hitam”, lambang alat-alat pembentukan kata-kata, suara dsb. = alat-alat untuk berbicara.

~SEMBILAN~

1.
Napas, berarti jalan udara pernapasan tatkala berbicara (angin ing lesan).
2.
Tanapas, berarti jalan udara pernapasan tatkala mendengarkan sesuatu (angin ing karna).
3.
Anpas, berarti jalan udara pernapasan tatkala melihat sesuatu (angin ing netra).
4.
Nupus, berarti jalan udara pernapasan tatkala mencium, membau (angin ing grana).

~SEPULUH~
Jisim halus terdiri dari :

1.
Roh Illapi, berarti hidup keperbauan (gesanging grana).
2.
Roh Rahmani, berarti hidup kepenglihatan (gesanging netra).
3.
Roh Nurani, hidup kependengaran (gesanging karna).
4.
Roh Rohmani, berarti hidup kepembicaraan (gesanging lesan).

~SEBELAS~
Jisim wadak terdiri dari :

1.
Roh Rabbani, meliputi faedah hidung atau membau.
2.
Roh Nabati, meliputi faedah mata atau melihat.
3.
Roh Hewani, meliputi telinga atau mendengar.
4.
Roh Jasmani, meliputi lesan atau perasaan.

~DUA BELAS~

1.
Sarengat, diliputi pergerakan badan.
2.
Tarekat, diliputi pergerakan angan-angan atau hati sanubari.
3.
Hakekat, meliputi pergerakan jiwa.
4.
Makripat, diliputi pergerakan rasa atau perasaan.

~TIGA BELAS~

1.
Mani, berarti kejantanan rasa luhur yang sebenarnya (Sejatining rasa = concritisering van het gevoel).
2.
Wadi, berarti tempat (penimbunan) rasa.
3.
Madi, berarti hakekat rasa.
4.
Manikam atau Manikem, berarti pengumpulan rasa (kempaling raos).

Semuanya terpusat dalam badan (Janaloka), diperlambangkan dengan “Seganten Kidul” (Samudra Selatan = Samudra Indonesia, penuh dengan gelombang-gelombang besar dan karenanya tidak pernah “tentram”, selalu “bergerak”, menggetar, tepat seperti hidup dan kehidupan manusia. Samudra tersebut dikuasai oleh Nyai Roro atau Ratu Kidul)
~EMPAT BELAS~

1.
Sidik, berarti benar.
2.
Amanat, berarti kepercayaan.
3.
Tabligh, berarti mendatangkan.
4.
Patonah, berarti bijaksana.

~LIMA BELAS~

1.
Dzikir Satariyah atau Dzikir Sarengat, berarti dzikir badaniah, dengan diiringi ucapan-ucapan tertentu. Dalam alam nasut. Pada lahiriahnya tidak sulit.
2.
Dzikir Isbandiyah atau dzikir Tarekat, berarti dzikir dalam batin, dalam alam malakut. Pada lahiriahnya tidak terasa.
3.
Dzikir Bardiyah atau Dzikir Hakekat, dalam alam jabarut. Pada umumnya perbuatannya tidak disadari.
4.
Azikir Jalalah atau Dzikir Makripat, dalam alam lahut. Pada lahiriah tidak terasa apa-apa.

~ENAM BELAS~

1.
Sembahyang Jema’at, berarti sembahyang sarengat (jasmaniah).
2.
Sembahyang Kusta atau sembahyang tanpa lisan, atau dalam keadaan “Heneng”.
3.
Sembahyang Kaji atau sembahyang yang dipusatkat pada telinga, atau dalam keadaan “Hening” (murni).
4.
Sembahyang Ismungali atau sembahyang yang dipusatkan pada mata, atau dalam keadaan “Hawas” (waspada).
5.
Sembahyang Daim atau sembahyang yang berpusat pada hidung atau dalam keadaan “Heling” (=selalu ingat…… kepada Tuhan Yang Maha Esa).

~TUJUH BELAS~

1.
Johar, berarti sesotya.
2.
Adam, berarti tidak (ora atau dihin).
3.
Adjebuldanbi, menuruti kehendak rasa sendiri.
4.
Insan Kamil, berarti kesempurnaan manusia.

~DELAPAN BELAS~

1.
Dalil memuat firman Allah, ditujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
2.
Kadis (hadith) memuat sabda Nabi Muhammad s.a.w, ditujukan kepada para “Sahabatnya” (disciplen).
3.
Ijemak memuat wejangan yang ditujukan kepada para “Sahabat” tadi.
4.
Kiyas memuat ajaran para wali yang ditujukan kepada para mukmin.

~SEMBILAN BELAS~

1.
Lapal, diucapkan dengan perkataan bahasa Ara.
2.
Makna, berarti “arti” diucapkan dalam bahasa Daerah (Jawa, Sunda, Madura, Madura, Batak, Aceh dan lain-lai).
3.
Murad, berarti “wredi” diucapkan dalam bahasa Daerah atau lain terjemahan.
4.
dMaksud (surasa), diucapkan dalam bahasa daerah atau lain terjemahan.

~DUA PULUH~

1.
Ekram (bhs Jawa = eling), berarti selalu ingat. Dalam artikata selalu memusatkan pikirannya kepeda Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini selalu mentaati segala perintahnya.
2.
Mikrat, berarti mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa.
3.
Munajat, berarti ucapannya hanya meliputi dan diliputi rasa Ketuhanan Yang Maha Esa.
4.
Ngubadul atau Molah, berarti menghapus segala tindakan yang bersifat keduniawia. Segala tindakannya, perbuatannya bersifat Ketuhanan, dan ditujukan semata-mata kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Masalah tersebut diatas kiranya dapat disederhanakan melalui tafsiran sebagai berikut.
1. Kita harus mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa yang tunggal, atau mengakui adanya hanya satu “Hidup yang menghidupkan segala makluk hidup.
“Benih” atau permulaannya bersifat rahasia dan diberi nama Sesotya yang terhormat atau “Permata yang bersinar-sinar” (Nukat Gaib, Nur Muhammad, Karatoning Kabatinan), sedangkan bahasanya disebut KUN (bhs Arab) atau Firman Tuhan. Firman Tuhan itu mengandung “Perintah Tuhan Yang Maha Esa” dalam bentuk bahasa yang dapat dimengerti umat manusia yang bersangkutan, masing-masing bangsa dalam bahasanya sendiri-sendiri. Alhasil terhadap bangsa Arab misalnya dalam bahasa Arab, bang Yunani dalam bahasa Yunani demikian seterusnya, dengan terjemahannya kedalam bahasa yang lain.
Firman Allah yang asli berbentuk Ilham, bersifat gaib. Ilham itu hanya dapat tertangkap para Nabi, avatar dsb (pada umumnya).
2. Inti-pati (essence) Tuhan Yang Maha Esa dinamakan DZAT. Dzat itu mempunyai sifat (bhs Jawa sipat) atau “warna” atau “cahaya” (=Cahaya Tuhan Yang Maha Esa), juliukan (asma), sedangkan “budi-pekertinya” disebut Angpal atau Af’al (berarti menurut garis-garis fa’ali), yang selalu bersifat baik, bijaksana dan budiman.
3. Dalam keadaan kongkrit Dzat tersebut dinamakan Dzat Mutelak atau Jazad (organisme). Dalam tiap jasad terkandung secara integral Dzat subekti (jiwa atau roh). Dzat salikin (perasaan) dan Nukat Gaib.
4. Dalam keadaan tersebut terkandung pula segala keluhuran, keagungan makhluk hidup (Kahar), keelokan yang tiada bandingnya (Jalal), kekuasaan tertinggi atas segala keadaan dan peristiwa (Jamal atau Wisesa), bersifat serba sempurna (Kamal.
5. Tiap jasad berada dalam alam yang wajar, materiil atau “Alam jasmani” (Alam Nasut), diliputi oleh jiwa atau “Alam rohani” (Alam Malakut), perasaan (Alam Jabarut) dan “Alam Cahaya Tuhan (Alam Lahut).
6. Tiap jasad mempunyai badan (Wujud), yaitu bentuk yang wajar atau mujarad, rasa atau perasaan, ataupun “arti” (Ilmu), cahaya atau sesuatu yang memancar (Nur), yang serba sempurna (Suhud).
7. Sebaliknya tiada cahaya tanpa rasa atau perasaan, ataupun arti jiwa dan jasad.
8. Tiap jasad memiliki 4 nafsu : Nafsu Mutmainah, Supiah, Amarah dan Lauwamah.
9. Sesuai dengan kedudukannya sebagai “Tetalining urip” (segala sesuatu yang melekat pada masalah hidup), berdasarkan kegiatan alat-alat pancaindera kita.
Jalannya pernapasan mempunyai 4 macam bentuk :
a. Tatkala mendengarkan (angining karna), dinamakan Tanapas.
b. Tatkala melihat (angining netra), dinamakan Anpas.
c. Tatkala membau (angining grana), dinamakan Nupus.
d. Tatkala berbicara (angining lesan), dinamakan Napas.
10. Adapun “hidupnya” (berfungsinya) alat :
a. Pembau (gesanging grana) dijiwai oleh Roh Ilapi.
b. Penglihat (gesanging netra) diliputi oleh Roh Rahmani.
c. Pendengaran (gesanging karna) dijiwai oleh Roh Nurani.
d. Lisan atau daya berbicara (gesanging lesan) dijiwai oleh Roh Rohmani.
Roh-roh tersebut (sub a s/d d) tergolong pada yang dinamakan “Jisim” atau “Badan Halus”.
11. Mengenal kefaedahannya, maka :
a. Membau (berfungsinya alat-alat pembau) dijiwai Oleh Roh Rabbani .
b. Melihat (berfungsinya alat-alat penglihatan), jiwai oleh Roh Nabati.
c. Mendengar (berfungsinya alat-alat pendengar) dijiwai oleh Roh Hewani.
d. Berbicara (berfungsinya alat-alat bicara), dijiwai oleh Roh Jasmani.
Roh-roh tersebut (sub a s/d d) tergolong pada yang dinamakan “Badan Wadaq”.
12. Untuk mencapai faedah tersebut diatas (dapat berfungsi sebagaimana mestinya) dibutuhkan gerakan atau kegiatan:
a. Jasmaniah (Saerengat).
b. Rohaniah (kebatinan melalui angan-angan atau perasaan, ataupun hati sanubari (Tarekat).
c. Falsafah (Hakekat).
d. Melalui jalan tasawuf atau mistik (Makripat).
13. Hal-hal tersebut diliputi oleh “rasa kenyataan” (Mani atau cocretisering), membutuhkan “tempat rasa” (Wadi), menimbulkan “Hakekat Rasa” (Madi) dan akhirnya “Pusat Pengumpulan Rasa” (Manikem atau “Kumpulaning Rasa”, Jayengdriya atau Bait Al-Mukadas).
14. Hal-hal tersebut harus dilakukan secara tepat atau benar dengan seksama (sidik), dengan penuh kepercayaan (amanat) serta sempurna. Tegasnya janganlah setengah-setengah hendaknya. Jika dirasakan belum sempurna, wajid diusahakan (didatangkan = tabligh) sedemikian, hingga semurna penuh, secara bijaksana (patonah) antara lain dengan :
15. I. a. Dzikir Sataryah atau Dzikir sareat, yang berarti badaniah, diiringi ucapan-ucapan tertentu. Berlangsung dalam alam nasut. Dalam artikata secara lahiriah dapat disaksikan fihak ketiga pula. Perbuatan itu pada galibnya tidak sulit adanya.
b. Dzikir Isbandiah atau Dzikir tarekat, yang berlangsung dalam batin atau Alam Malakut. Pada lahiriahnya tidak terasa.
c. Dzikir Bardiyah atau Dzikir Hakekat, yang berarti melaksanakan jiwa dzikir saja. Berlangsung dalam Alam Jabarut. Terlaksananya pada galibnya tidak disadari oleh yang melaksanakannya.
d. Dzikir Jalalah atau Dzikir Makrifat. Pada peristiwa ini pada galibnya tiada apa-apa. Berlangsung pada Alam Lahut.
Dalam pada itu “dzikir” berarti pujaan atau pujian terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan berulang-ulang mengucapkan kata-kata dalam bentuk lagu (berirama) sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa.
16. II. a. Sembahyang pada hari Jum’at atau “sembahyang sarengat” ataupun “sembahyang jasmaniah”.
b. Sembahyang Kusta atau sembahyang tanpa lisan atau sambil berdiam diri dan tidak berbicara sama sekali. Manusia yang bersangkutan ada dalam keadaan “Heneng”.
c. Sembahyang Kaji, dipusatkan ditelinga (karna dan atau pendengaran. Cara ini menimbulkan kemurnian batin, atau pikiran. Manusia bersangkutan ada dalamkeadaan “Hening”.
d. Sembahyang Ismungalim, dipusatkan pada mata (netra) atau penglihatan. Cara ini menimbulkan kewaspadaan atau keadaan “Hawas”.
e. Sembahyang Daim, dipusatkan pada hidung atau alat-alat pembau lainnya. Cara ini mampu memperingatkan orang yang bersangkutan kepada sesuatu hal, ataupun menarik perhatian. Dalam pada itu orang tersebut ada dalamkeadaan “Heling”.
Dalam suasana ini sembahyang berarti pernyataan bakti dan perkataan tertentu, dalam suasana “Heneng, Hening, Heling, Hawas”!!
17. Perlu ditandaskan lebih jauh, bahwa “Sesotya yang terhormat” atau Nukat gaib” ataupun “Johar”, itu berarti tiada yang mendahuluhinya (Adam). Pengertian ini dapat tercapai atas dasar rasa yang kuat (addjebuldanbi) dan rasa perikemanusiaan yang sempurna (Insan Kamil).
18. Sebagai pedoman hendaknya selalu dipakai firman Tuhan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. (Dalil). Selanjutnya sabda Nabi Muhammad s.a.w. kepada para muroidnya yang pertama dan terutama atau “Sahabat Nabi” (Abubakar, Umar, Usman, Ali) (Kadis, Hadits), wejangan yang ditujukan kepada para “Sahabat Nabi” tersebut (Ijemak), dan ajaran para “Waliyullah” (auliya atau orang suci penyebar Agama Iaslam kepada para pendeta atau mukmin (Kiyas).
19. Hendaknya diperhatikan pula perkataannya dalam bahasa Arab (lapal), arti kata-kata tersebut dalam bahasa daerah (makna), penjelasaannya (wredi) dan tujuannya (maksud).
20. Singkatnya kita harus selalu ingat (eling), dalam artikata memusatkan perhatian kita kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ikram), mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa (murad), yang harus dicerminkan pada ucapannya yang selalu diliputi dan meliputi perihal Ketuhanan (munajat) dan budipekerti yang nyata. Tegasnya menghapuskan segala tindakan / perbuatan yang bersifat keduniawian, sambil mengutamakan tindakan / perbuatan yang bersifat kerohanian. Dalam artikata ditujukan semata-mata kepada, tegasnya menembah, Tuhan Yang Maha Esa (Ngubadil atau Molah)
READ MORE - SUNGSANG BAWANA BALIK

NGAKONI KALUPUTAN


Ngakoni kaluputan iku ora ateges ngasorake dhiri. Nanging sawijining tandha yekti yen wong mau wis bisa kinaranan maju satindak ing laku kautaman. Kosokbaline sapa kang sithik ngrumangsani kaluputane, ateges wong kang ora nduweni budi pekerti. Wong kang ora nduweni donya brana iku sinebut mlarat. Wóng kang ora nduweni pikiran iku luwih mlarat. Dene wong sing ora kadunungan budi pekerti mono klebu mlarat-mlarate wong.
Sing sapa rumangsa nduweni kaluputan, aja isin ngowahi kaluputan sing wis kadhung katindakake mau. Jer ngakoni kaluputan mono wis cetha dudu tindak kang asor, nanging malah nuduhake marang pakarti kang utama kang ora gampang linakonan dening sadhengah wong. Iya wong kang wis bisa nduweni watak gelem ngakoni kaluputane mangkene iki pantes sinebut wong kang jujur sarta kasinungan ing budi luhur.
Batine wong kang bisa ndarbeni ati nriman iku tansah ayem lan tentrem, marga satingkah laku tansah linambaran keyakinan kang kandel marang kadar peparinge Pangeran. Nriman ora teges wis marem apa anane, nanging suwalike kepara malah sungkan meneng. Mung bae ora grusa-grusu kaya tumindake wong kang nduweni sipat ngangsa-angsa kaya ora gelem ngakoni karang anane pandum.
READ MORE - NGAKONI KALUPUTAN

“Durung gedhe yen durung wani ngaku cilik”

Dalam pepatah jawa  “Durung gedhe yen durung wani ngaku cilik” yang artinya kurang lebih : Manusia hidup di masyarakat hendaknya memiliki sifat rendah hati. Manusia merasa belum besar apabila belum berani menjadi orang kecil. Orang yang berjiwa besar dapat merasakan penderitaan orang lain. Orang besar hendaknya menghargai orang kecil. Para pejabat yang kaya hendaknya mau menyantuni fakir miskin. Pejabat yang mau memperhatikan nasib orang kecil akan disayangi masyarakat. Begitulah kira-kira maksudnya.


Di dalam Sekar Macapat Waspada dadi suci sinawung ing Sinom, yang menceritakan tentang keadaan dunia bahwa akan banyak orang yang meninggalkan adab sopan santun, hanya mengejar harta benda dan tidak mengindah tatanan serta mengumbar angkara murka. Dalam Sekar macapat tersebut juga mengandung pitutur (nasahat) yang patut kita contoh dan renungkan agar dalam menjalani hidup kita sehari-hari mendapatkan ketenangan dan ketentraman : yaitu kita harus selalu waspada menjaga segala tingkah laku dari pengaruh yang kurang baik, dan jadikan hidup kita berguna untuk sesama.
Andai kita berkuawasa,
Disitulah kita di uji,
Dan apabila kita hidup jadi rakyat,
Disitu juga kita diuji,
Seberapa kuat hatimu,
Getah didalam batang ubi kayu,
Tanah dan air ibaratnya,
Dibutuhkan orang satu negara,
Itu dapat sebagai sarana untuk beramal.
READ MORE - “Durung gedhe yen durung wani ngaku cilik”

LANGKAH LIMANG PERKAWIS

Lampah Limang Prakawis miturut kabudhayan Jawi wiji saking Kyai Agêng Pêngging ingkang kapêncarakên dening Seh Siti Jênar, inggih punika:
  1. Sêtya amituhu utawi têmên lan jujur.
  2. Santosa, adil paramarta, tanggêljawab botên lèwérwéh.
  3. Lêrês ing samubarang damêl, sabar wêlas asih ing sasami, botên ngunggul-unggulakên dhirinipun, têbih saking watak panganiaya.
  4. Pintêr saliring kawêruh, langkung-langkung pintêr ngécani manahing sasami-sami, punapa dènè angêreh kamurkaning manah pribadi, botên anguthuh mêlik anggéndhong lali, margi saking dhayaning mas picis raja brana.
  5. Susila anoraga, tansah ngênggéni tata krami, mawéh rêrêseping paningal tuwin sêngsêming pamiharsa, dhatêng ingkang sami kataman.
Mustikaning kawêruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan kuwasa anindhakakên lampah limang prakawis kados kawursita ing nginggil punika. Têmah kita manggén ing sasaning katêntrêman, dene wontêning katêntrêman punika mahanani harja kréta lan kamardhikan kita sami. Yen botên makatên, ngantos sabujading jagad, kita badhe nandhang papa cintraka, kagilês dening rodha jantraning jagad margi kacidraning manah kita pribadi.
Hewandene Pêpingin Nêm Prakawis punika inggih ingkang among utawi mituruti karsa, wêwêjanganipun kados ing ngandhap punika:
  1. Paningal (Sang Prêtiwidnya), amjurungi karsa ningali wawarnén ingkang sarwa édi péni.
  2. Pangganda (Sang Sutasoma), mituruti karsa angambêt gagandan ingkang amrikarum angambar-ambar.
  3. Pamiyarsa (Sang Srutakirti), among karsa niling-nilingakên pamirênging swara ingkang sakéca angrangin angayut-ayut, langkung-langkung pangrintihing swara salêbêting pulang asmara.
  4. Pangraosing ilat inggih pangênyam (Sang Satanika), angumbar karsa raosing sawarnanipun dhadhaharan tuwin unjuk-unjukan ingkang sarwa miraos.
  5. Pangraosing anggota (Sang Srutakrama), anguja karsa sakécaning sarira (kêséd sungkan sasaminipun), langkung malih pangujaning raos kanikmataning asmara.
  6. Wicara (Sang Gatutkaca), anjurungi karsa wêdaling swara sêreng kadosta; nêpsu, muring- muring, srêngên, lsp. Dene wêdaling swara ingkang manis arum anujuprana, namung yén kapanujon amawa pamrih, atêges wicara ingkang lamisan. Inggih wêdaling pamicara ingkang manis arum kadi madu pinastika, punika mêsi darubêsi sakalangkung mandi, sintên ingkang kirang waspada, bilai ingkang pinanggih.
READ MORE - LANGKAH LIMANG PERKAWIS

PITUTUR KANG BECIK



  • Yen kepengin nglungguhi pangkat kang dhuwur luwih prayoga yen dikawiti saka kalungguhane kang endhek dewe. Kawit klawan mengkono ing tembe siro ora disepeleake dening bawahanmu, lan kang utama yaiku sira nuli bisa nglungguhi ing kawicaksanan, adoh saka watak deksura, ananing mung sarwo kebak tepa selira.


  • Aja ndarbeni pepenginan dadi wong kang luwih kang ngandhut idham-idhaman supaya sarembuge diendel wong akeh. Luwih prayoga tansah njaga bae marang rembukira kanthi becik, petitis lan maedahi. Karo maneh tindak-tanduk kang ngresepake, luwih-luwih kang bisa aweh paedah marang wong liya iku ajine ngungkuli sakehing pitutur kang ndakik-ndakik nanging kang durung kebukten ananing panindak. Mula kuwi tansah udinen amrih wetuning rembug tansah keplok lumah kurep karo tindake.


  • Aja gething marang apa kang kok duweni. Aja nyawang remeh marang apa kang kok duweni. Aja wedi yen sing mbok duweni bakal nggawa susahmu. Sing mbok duweni mujudake marganing marang kahanan kang apik.


  • Prawiraning wong prawira iku ora kaya wong kang bisa ngasorake hawa nafsune awit hawa nafsu iku kang dadi sumber sakabehing memala, bisa ngrusak jagad yen kapinujan kesinungan panguwasa sarta bisa nuwuhake kasengsarane urip semangsa kelangan prikamanungsane.


  • Kaprawiran lan kapitayan dhiri mono pancen wigati. Pindhane prajurit kang maju perang iku, senajan senjatane mbrabat lan pepak, yen tanpa nduweni kaprawiran lan kapitayan dhiri genah ora bakal bisa ngempakake gamane kanthi tumama. Semono uga ing setengahe bebrayan. Yen wong ora kadunungan watak prawira lan pitaya marang dhiri pribadi satemah kepinteran kang diduweni ora bakal bisa dipigunakake klawan samesthine. Bisane mung nunak-nunuk ora beda karo tumindake wong calaina kang njaluk dituntun pitulunge liyan.


  • Wong pinter kang ora kekanthenan ing kautaman iku ora beda karo wong wuta nggawa obor ing wayah wengi. Madhangi wong liya nanging dhweke lakune kesasar-sasar. Kapinteran kang mangkene iki kang dicakake ing madyaning bebrayan bakal nuwuhake kapitunan, pikolehe malah mung wujud kasangsaran lan karusakan.


  • Sing nyebabake wong ngrasa tansah ora cukup yaiku amarga dheweke nggunakake pathokan barang-barang lan kahanan iku tansah owah gingsir miturut sebab lan kedadeyan, mula wong bakal ngrasa tansah kurang.


  • Sapa bae kang rumangsa dadi pemimpin, mbudidoyoa amri sakabehing pangucap lan tandang grayangmu tansah bisoa jumbuh nyawiji. Jumbuhing pangucap lan tandang iku perlu, jalaran kedhale lisanmu kang wus kadhung kawetu kudu bisa digugu, kang jangkahmu kang wus kadhung lumaku kudu bisa ditiru. Yen ora mengkono jeneh kaya wong wuta kang nggawa obor.


  • Aja tansah kepengin diemong, nanging kepara bisoa dadi pamong menawa kowe kepingin tansah bisa gawe reseping pasrawungan. Lire kabeh mitaramu gawenen seneng atine, sarana aweh pitulungan lan bantuan sak kuwasamu yen ana sing nandhang reribet.Wondene yen ora kuwagang, aran wis prayoga yen kowe ora gawe seriking liyan.


  • Wong kang tansah nduwe watak njaluk diemong dening kabeh kanca tetepungane iku, adate sak ucap tindake tansah njaluk dibenerake. Yen ana wong liya kang cengkah karo panemune, gedhene ngluputake, mesti disatroni. Wong kang tansah njaluk benere dhewe iku karan durung dewasa, ora beda karo bocah cilik. Aran utama yen sira tansah bisa ngemong sakabehing mitra karuhmu.


  • Panandhang kaya dene kegagalan, bisa dadi anugerah utawa musibah. Yen panandhang ditampa kanggo sawijining kekuatan tanpa rasa gething lan nesu, mula panandhang bisa dadi anugerah kang gedhe.


  • Sakabehing gegayuhan lan pakaryan mesthi bisa kasembadan yen ditangani kanthi anteping tekad. Dene tekad mono ngemu telung perkara, yaiku anteping ati, lan kencenge pikir sing laras karo bobote kekuatan.


  • Aja ngaya lan keladuk anggonmu nenumpuk bandha lan kasugihan. Kawruhana menawa bandha lan kasugihan mono pindhane banyu segara, yen diombe ora njalari mari ngelak. Saya akeh anggone ngombe, kepara saya wuwuh ngelake. Yen diuja terus bakal nekakake bilahi.


  • Yen sira dipasrahi kuwajiban dening wong liya, tindakna kanthi tememen kaya pangarep arep yen kowe masrahi kewajiban marang wong liya. Semono ugo yen sira lumuh dilarani atimu, mesthine kowe dhewe ya kudu lumuh natoni atining liyan. Kabeh iku dhasare ora ana liya ya mung kudu bisa tepa selira.


  • Aja sok nyenyamah luputing liyan, luwih becik tuduhna kaluputane kang malah bisa ngrumaketake rasa paseduluran. Ewa semono aja nganti kowe kesusu mbecikake kaluputane liyan yen awakmu dhewe rumangsa sawijining wong kang wis ngerti marang jejering manungsa, manungsa kang utama.


  • READ MORE - PITUTUR KANG BECIK

    TERANG GAMBLANGE KANG ARAN DIRI

    a. BAB WUJUD ANYAR, ya wujud daden-daden, utowa momoran.
    Pulas kuning diwori pulas biru, mujudake pulas ijo. Maune ora ana pulas ijo. Kang ana : kuning lan biru. Bareng warna kuning lan biru diwor, nganakake : pulas ijo.
    Warna ijo pepindhane wujud anyar, ya wujud daden-daden, utawa wujud momoran. Dene warna kuning lan biru iku wujud asal.
    Tuladha maneh : maune ora ana wujud kang aran kuningan. Bareng tembaga diwor karo timah sari, banjur dadi kuningan kang digawe paidon kae. Kuningan iku wujud anyar. Kang maune ora ana.
    Emas karo tembaga dicampur, dadi suwasa. Suwasa iku wujud anyar.
    Gandum diuwor karo gulo, endhog, puwan, uyah kaolah mujudake kuwih, kayata : mari. Kuwih mari iku wujud anyar, yaiku wujud SIJI kang kadadeyan saka dhapukaning adon-adon warna-warna.
    Wong kang ora sumurup asal usule, mangka ujug-ujug weruh warna ijo, iya wis mesthi ngira yen warna ijo iku dudu warna anyar. Mangkono uga kuningan, suwasa, kuwih mari, premen, lenga cap burak, sapanunggalane, kabeh rinasa kaya dene wujud asli, tegese kaya-kaya PANCEN WIS ANA MAU-MAUNE kang aran ijo, kuningan, mari sapanunggalane iku.
    Saya anggonku ora padha ngira, upama dipratelani, yen : PELEM, KAYU, DAGING, BALUNG, LEMAH…… iku wujud anyar, kang tegese momoran. Mulane ora bisa ngira, awit ora sumurup marang asal usule, weruh-weruh wis dadi kayu, daging, balung. Jer wis ana wiwit kuna-makuna.
    Aksara “a, b, c, d, e, ……..” iku siji-sijine kalumpuking garis bengkong lan lenceng ditahk-thukake. Uga momoran.
    Kang diarani gendhing, kayata : pangkur, iku klumpuking swara warna-warna, kang ditahk-thukake sarana wangun, (dilaras) mujudake larasan siji (harmoni) banjur dijenengake : pangkur.
    Janaka (wayang) iku dhapukaning wewangunan cilik-cilik, ditata, dilaras, mujudake wawangunan siji, kang dijenengake : Janaka.
    Rasaning kuwih mari, iku klumpukaning rasa warna-warna, kayata : gurih, legi, asin, buket, mirasa….. kadhapuk, kalaras sarana kataker sawarna-warnane, banjur mujudake RASA SIJI, KANG TEKA ANYAR, jumedhul, utawa sajak tiban saka langit, aran : mari.
    Rasaning pelem iya mangkono, dhapuking rasa warna-warna, mujudake rasa SIJI aran rasaning pelem. Ing nguni ora ana kang jeneng : pe + lem. Bareng adon-adon warna-warna tinaker (dening kodrat) kaulet, banjur nganakake wujud anyar SIJI, sajak jumedhul utawa tiba saka langit, arane : pelem, banjur rinasa pantes banget diarani pelem, marga netepi kapelemane.
    Kang aran daging, balung, kayu, lemah……. siji-sijine ya kalumpuking wujud warna-warna, kadhapuk sarana kataker dening pangawasa lan ngelmuning Pangeran. Kabeh mau siji-sijine awujud harmoni, momoran, iya daden-daden.
    Harmoni cilik-cilik, kalumpukake mujudake harmoni gedhe. Harmoni gedhe-gedhe, klumpuke kang luwih gedhe, sabanjure nganti ora kira-kira gedhene.
    Harmoni sawiji, kang jumeneng gedhe-gedhening harmoni, iku kasebut nganggo tembung : ALLAH.
    Samubarang kang wis maujud, sanajan iku wujud anyar, kita ora ngira yen iku anyar, kang kadadeyan saka dhapukan. Mangkono maneh samubarang kang wus WUJUD RASA SIJI, kang wis nganggo jeneng, sanajan iku RASA ANYAR, utawa rasa dhapukan, rehne wis maujud SIJI tur mawa aran. —- iku kita banjur lali marang lungguhing anyare, tuwin lungguhing dhapukane.
    Sangsaya ora ngira yen kita mikir bab rasa kang diarani RA – SA – NING – WONG.
    Kang diarani, UWONG utawa RASANING WONG : iku iya rasa anyar, daden-daden utawa dhapukan, nanging dirasa SI-JI. Iku ora beda karo dhapukaning swara warna-warna kang mujudake ENGESING PANGKUR.
    Kang aran rasaning wong, kayata : rasane Suta, iku dhapukan saka rsaning Luamah, Amarah, Supiyah, Mutmainah, Angen-angen…… sapiturute, kang sawarna-warnane tinaker ing kodrat, dhinapuk, supaya dadi harmonining rasa, kang banjur dijenengake : RASANING SI SUTA utawa ATINE SI SUTA utawa WATAKE SI SUTA.
    Kang bisa ngrasakake marang atine si Suta mau, ya si Suta dhewe. Nanging : endi ta kang jeneng si Suta iku, ambak-amabak mung pangaran-aran. Kang jeneng si Suta, wujud anyar, kang sajak jumedhul tanpa sangkan, ewa dene : si Suta ngrasa (ngira nganggo pangrasane) yen dheweke iku kuna makuna wis dadi si Suta. Yen calathu nganggo tembung : AKU, iku kang diarani aku : RASA KASUTAN, kang anyar tekane.
    Sarehne saben rasa wis mesthi ana bebakalane (wujude kang nganakake rasa mau, dadi wis mesthi wujuding bleger : ya dhapukaning wujud asli kang maneka warna).
    Kang diarani : rasaning wong iku, dhapukaning rasaning sato + rasaning tetuwuhan + rasaning jin + rasaning setan + rasaning dewa + rasaning kapangeranan, sapanunggalane. Sajinis-jinise mawa takeran. Ana dene panakere, iku tumrap sawiji-wijining wong : ora padha. Ana kang kaduk kasatoan, ana kang kaduk kajimane, ana kang kaduk kasetanane, ana kang kaduk kasukmane.
    Kang endi kang kaduk. Yaiku kang dikulinakake pakartine (diurip-urip) kulina diempakake dayane.
    Rehne wis tetela, yen siji-sijining adon-adon iku KENA DIGAWE BIBIT, dadi tetela uga sadhengah adon-adon watake kudu-kudu makarti terusan, kabeh njaluk URIP, njaluk ANA, njaluk pakan, njaluk empan.
    Adeging dhapukan, kang mujudake siji-sijining wong, iku arane : DHIRI.
    Tembung DHIRI, nunggal teges karo diri ing basa Indonesia.
    Mulane karanan dhiri, awit kadadeyan saka ADEGING dhapukan. Dhapukan mau bareng madeg (berdiri), banjur aran dhiri, kang tegese deg-degan (perdirian), ngemu surasa yen pancen wujud anyar (deg-degan anyar), kang maune ora ana.
    DHIRI, uga teges ndhewe (mandhireng). Mulane ka-aranan ndhewe, awit ateges madeg dhewe. Mulane diarani ndhewe (berdiri sendiri) awit ateges deg-deganing rasa nayar, kang rumasa misah saka RASA TUNGGAL (misah saka RASA KAPANGERANAN). Pisahe banjur ngrasa madeg dhewe, ngaku kahanan jati, ngaku ANA dhewe, ngaku NGERTI dhewe, ngaku kahanan jati, ngaku URIP dhewe, …….. sabanjure ngajak lali marang jejering kahanan kabeh, ngajak ora ngrasa marang lungguhing anyare lan dhapukane, sarta njaluk pepandhingan karo dhiri-dhiri liyane. Mulane mangkono, awit weruh-weruh wis dadi deg-degan, weruh-weruh wis maujud rasa siji, ora nganggo milah-milah adon-adone.
    Sarehne dhiri iku ngrasa madeg dhewe (pisah saka rasa tunggal) dadi banjur duwe panganggep (pangandel) yen dhirine iku DUDU KAHANAN ANYAR, mung KABARE bae, anyar, nanging engetan lan rasane : ora tinemu anyare, ora tinemu nyataning anyare. Kang mangkono mau, nganakake rasa kumudu diluhurake kumudu ditresnani utawa disenengi dening dhiri liyane. Rasa mangkono iku ka-aranan : ambeg dhiri utawa watak dhiri.
    Kareping tembung : ngegungake dhiri. Tumraping kawruh batin, katembungake : KORUP MARANG DHIRI.
    Rehning panganggep kang mangkono mau kliru (dudu panganggep kang nyata, dudu dabenering anggep) dadi banjur katembungake anggep-anggepan, tegese : tetironing anggep, utawa ayang-ayanganing anggep, dudu sajating anggep.
    Rasa kang kliru mangkono, nukulake cacad akeh rupa-rupa, kayata : gumedhe, jubriya, tekabur, sumengah, adigang, adiguna, kumingsun, kuminter, sumangkeyan….. akeh tunggale. Empune ana ing rasa dhiri (rasa madeg dhewe rasa misah) mau.
    Pang-panging anggep kang kliru mau kayata : isinan, laran aten, cugetan, mesgulan, sugih sak-serik, meren, butarepan, ewan, panasten, drengki……. akeh banget yen dicacahake. Kabeh mau underane utawa telenge ana ing RASA DHIRI (RASA PISAH, RASA MADEG DHEWE).
    Rasa dhiri iku kamusrikan kang dhisik dhewe.
    Panyudaning watak anggep dhiri, sarana ngupaya pangreten kang terang marang lungguhing anyare lan dhapukane. Kapindhone : Ngurip-urip rasaning Mutmainah kang ngajak bekti marang Pangeran lan welas asih marang sapadha-padha.
    Tipising rasa dhiri, nenarik marang bisane ngrasakake marang rasa tunggal, yaiku rasaning manungsa sejati utawa ra ka-Pangeranan.
    b. JUMEDHULING WUJUD ANYAR : NGALEKAKE MARANG WUJUD ASLI
    tembung di LALEKAKE, iku tegese : rinasa ORA ANA (ora rinasa ana).
    Upamane kayata : biru diwori kuning, sawise dadi ijo, si biru lan si kuning sirna tanpa lari, ilang musna ing pandulu, kaganti ing jumedhuling ijo.
    Glepung, gula, puhan, uyah, endhog, lan liya-liyane, bareng wis diulet sarta mujudake kuwih mari, kabeh mau banjur sirna saka ing engetan, ilang musna tanpa lari, kasalinan jumedhuling wujud siji thok kang jeneng : kawih mari, tekaning kuwih mari sajak tanpa sangkan, ujug-ujug ana.
    Saerhning kabeh adon-adon wis disirnakake saka ing engetan, temahan rasaning adon-adon kang warna-warna mau, (legi, asin, gurih….) rinasa dadi duweke mari. Dadi si mari kang banjur oleh aran : legi, gurih, asin, buket sapanunggalane. Wong banjur clathu : Kuwih mari iku legi, kuwih mari iku asin, kuwih mari iku gurih. Mangkono iku ateges ora ngelingi marang si endhog, si gula, si uyah, si puwan, sapanunggalane.
    Bocah mangan panganan, akeh bae kang ngrasakake enake lan ngreti jenenge, nanging ora sumurup kang digawe.
    Tunggale iku kayata : rasaning wowohan, kayata : krambil, pelem, kacang………, iku wong kang mangan, kawruhe mung mangkono : Krambil iku gurih, krambil iku rada legi, krambii iku ora asin. Kacang iku gurih, kacang iku rada legi, kacang iku rada asin, kacang iku buket. Adon-adon kang mujudake adeging kacang, ora dipikir, wis cukup sauger ngelingi kacang, ya ora kena dipaido, marga wanuhe marang wujud kang aran kacang iku wiwit cilik. Malah kacange wis cumawis sadurunge sing mangan lair ing donya.
    Ing dhuwur iku nyamleng banget dianggo pepethan wujud anyar kang aran : WONG.
    Coba katiti priksa, apata : WONG iku?
    Manawa katiti priksa, ya jibles “mari” mau.
    Adon-adon kasar alus warna-warna : kaulet, mujudake jemedhuling wujud anyar, kang arane : wong. Bareng WONG wis madeg, ananing adon-adon padha sirna tanpa lari saka ing engetan kita.
    Dayaning adon-adon warna-warna : nganakake rasa warna-warna. Nanging rasa warna-warna, mau-mau diaku dening wujud anyar, kang aran : wong mau.
    Si Uwong sanajan teka anyar-anyaran, ewadene ngakoni marang rasa warna-warna, kang dumunung ing garbane. Upamane wong kang aran mas Wira, kang endita : kang aran mas Wira, ora ana, mung ceciptan utawa esthining engetan. Ewa dene ditetepake nduweni rasa warna-warna, kayata ditembungake : mas Wira pinter, mas Wira rosa.
    Engetan wong enggone  lali marang ananing adon-adon mau, kajaba sabab kaling-lingan si-uwong, ana maneh sababe, yaiku : wong donya iku ALUSE KORUP MARANG WADHAGE.
    Lumrahing wong, ora ngira yen ana wujud warna-warna. Ora sumurup yen ana kang dadi tukang ngrasa susah, ana kang dadi tukang gething utawa muring, ana kang dadi tukang asih utawa welas, ana kang dadi tukang kelingan, ana kang tukang eling, lan liya-liyane. Iku lumrahe padha ora dingerteni.
    Rasaning engetan, rasaning ati, rasaning jasmani, ……ora kinira yen ana wujude. Dikira saka : MAS WIRAbae. Nanging bareng ditakokake endi mas Wirane, ora bisa ndumuk, lan manehe sarehning korup marang kawadhagan, ana kang benyunyak-benyunyuk ndumuk badane wadhag sakojur.
    Kajaba mas Wirane disengguh wadhage, rasane kang maneka warna pisan uga disengguh saka wadhage. Kayata : Bisane mikir dikira mung saka dayaning utek. Bisane ndeleng saka dayaning mripat kang sasar. Bisane ngrungu saka dayaning kuping kang awujud daging. Nanging bareng wis diulese, mati apa-apane isih wutuh, teka ora bisa apa-apa, banjur nggraita yen Mas Wirane dudu wadhage.
    Adon-adon alus mau padha urip sarta kumudu makarti, siji lan sijine arebut daya. Kang pinuju menang dayane : mecungul dadi pangareping rahsa. Kayata : mas Wira lagi bungah, iku adon-adon kang dadi tukang bungah : mencungul. Adon-adon kang dadi kosok baline bungah : mingslep. Yen mutmainah lagi mecungul, mas Wira lagi becik atine, kayata : tresna marang sapadha-padha, sabar tetulung. Yen amarah  kang lagi timbul, ya mas Wira maneh kang disebut ala atine. Dadi molah-malihing rasa utawa wataking wong iku, ora dielingi saka timbul keleming adon-adon alus. Kang di-elingi wonge, kayata : Mas Wira wingi becik, saiki Mas Wira ala. Mau Mas wira muring, saiki dhangan sarta ngguyu.
    c. BEDANE RASA DHIRI KARO RASA PRIBADI
    Ing ngisor iki muga rinasakna :
    RASA PRIBADI iku ya Rasa Tunggal.
    Saben ana RASA DHIRI iku wis mesthi karo RASA PRIBADI. Nanging RASA PRIBADI ora mesthi karo RASA DHIRI. Iku lire : rasa dhiri Mas Wira butuh marang rasa pribadine kang tunggal. Nanging Rasa Pribadi kang tunggal ora butuh marang rasa dhirine mas Wira.
    Rasa dhiri iku “negatiefvorm”, tegese : adege butuh katetepake ing liyan, kaya dene dadining ringgit butuh marang salaka, dadining tulisan butuh WONG KANG NULIS. Nanging “salaka” ora butuh ringgit, wong ora butuh tulisn.
    Yen wong clathu nganggo tembung AKU, iku kang tinuju dening rasane wong mau : RASA PRIBADI KANG TUNGGAL.
    Nanging sarehne pribadi kalingan-kalingan ing rasa dhiri, kaya salaka katutupan ringgite, temah mung dhirine kang RINASA ANA. Uga padha karo ilanging salaka, kasalinan jedhuling ringgit.
    Ing ngarep nyebutake : TIPISING RASA DHIRI NARIK MARANG BISANE NGRASAKAKE MARANG RASA TUNGGAL,  iku tetembungane TIPISING RASA DHIRI : rinasakna kang memet kapriye karepe??
    KINANTHI
    Mangka kanthining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning alam, dadi wiryaning dumadi, supadi nir ing sangsaya, yeku pangreksaning urip.
    Marmen den taberi kulup, angulah lantiping ati, rina wengi den anedya, pandak-panduking pambudi, bengkas kahardaning driya, supadya dadya utami.
    READ MORE - TERANG GAMBLANGE KANG ARAN DIRI

    PANGILON LAN AYANG-AYANGAN

    ingsun, ya kahanan kang sajati.
    Sajatine ora ana kahanan maneh, mung INGSUN kang ana.
    Kahanan jati kagungan sipat.
    Sipating kahanan jati, yen ginelar, tanpa wates jinise lan wilangane.

    Gelaraning sipat, uga ka-aranan ayang-ayangan.
    Endi ta : ayang-ayangane?
    Endi ta : pangilone?
    Kang diarani ayang-ayangane, yaiku SALIRING SAHIR KABIR.
    Dene pangilone, iku cekake : mung Pangeran piyambak kang priksa.
    Sanajan roh suci, ing jagad ka-alusan kang luwih dening luhur, YEN SAHIR ISIH KORUP MARANG KABIRE, ya durung nyata marang pangilon sajati.
    Wujude pangilon sajati : WUNGWANG, tanpa apa-apa.
    Dadi pantes yen diaranana : ORA ANA, dening sadhengah makhluk. Ora beda karo ORA ANANING RERUPAN : Tumrap pangilon bening. Dadi kang ora ana : RURUPANE. Nanging pangilone : A N A.
    Pangilon sajati  : SIJI, nanging tanpa wates wilangane lan jinise.
    Siji kang tanpa wates cacahe mau disengguh : ORA ANA tumraping ngaurip, kang sahire kurup marang kabire. Ora ana iku lire : dudu bangsaning wujud lan dudu bangsaning rasa. Marga : pangilon mau sajatine mung : DAYA TUNGGAL.
    Daya tunggal, yaiku : LARASING KEDHER KODRAT KANG SALARAS (4).
    Ya daya tunggal mau kang mratelakake ananing rasa lan wujud (sahir kabir).
    ————————-
    ($). Kedher Kodrat : Caraning Kodrat Makarti.
    Sadhengah kang nunggal daya, ya nunggal rasa, nunggal kawruh, banjur ka-aranan nunggal alam. Kayata : pandulu padha pandulu : iku nunggal daya nunggal alam. Kawengku ing daya tunggal : SAJINIS (salaras), dadi pandulu iku nunggal rasa nunggal kawruh karo sapadhaning pandulu. Ora nunggal rasa lan kawruh : karo pangrungu utawa pangambu. Dado pandulu karo pandulu : nunggal alam. Pandulu karo pangrungu : ora nunggal alam.
    WARNA-WARNANING pangalaman, iku gumantung marang WARNA WARNANING daya tunggal (warna-warnaning CARA PAMAKARTINING kodrat).
    Pangalamaning wong donya BEDA karo pangalamaning jin, BEDA karo pangalamaning eblis, BEDA karo pangalamaning dewa…… lan liya-liyane, iku sabab saka BEDA-BEDANING daya tunggal mau.
    Daya tunggal-daya tunggal, kang tanpa wates jinise lan wilangane mau kawengku ana ing kahanan jati, kang pamengkune iku kaya dene buku mengku marang kacane kabeh.
    Bener banget pamilihe tembung KACA : kang ateges pangilon : Bener maneh pamilihe tembung rasa kang tumrap rasaning kaca (pangilon) awit dadi pepindhane RASA : kang tumrap ing pangilon jati. Mengkono maneh cahyaning pangilon Rasa : kang tumrap ing pangilon jati. Mengkono maneh cahyaning pangilon dadi pepindhane cahyaning RASA ($).
    Bokmanawa kang maca iki durung tampa (ngreti) marang pratelan ing dhuwur iku, ing ngisor iki panuntun murih bisa ngrasakake selehing panampa mungguh lungguhing ayang-ayang.
    ———————
    ($). Tetela kabeh kang gumelar iki, dadi tuladha lan sasmita tumrap marang kang awas. Ya dadi seksi anane kang nitahake, ya dadi piranti panggayuhing manusa, ya dadi katranganing pambudi.
    TULADHA – TULADHA
    I. YEN kahanan jati NGILO nganggo alam kodhok, kajaten katone sako ing kono mujudake : DHIRINING KODHOK, yaiku : ENGETAN RASA, PANGRASA BADANING KODHOK.
    Engetan utawa pangrasaning kodhok mau : SAHIR tumrap alam kodhok. Dene KABIRE : yaiku arupa blumbang, lemah, suket, banyu, hawa, padhange srengenge……. dalah wadhahe si kodhok dewe.
    Sarehne si-kodhok, sahire koru[ marang kabire, mangka kabire iku KAWUJUDAN ING DONYA KANG WADHAG, dadi INGSUN KANG NGLUNGGUHI KAJATEN, katone saka alam kodhok, iya wujud raganing kodhok : SIJI, yaiku awak kang kasengguh nduweni engetan lan rasa pangrasa, sanajan satemene DUDU RAGANE kang marakake kelingan lan bisa ngrasakake.
    Wilangan : SIJI, kang tumrap badaning kodhok kang nduweni engetan lan rasa pangrasa mau : ayang-ayanganing KASAWIJENING PANGERAN.
    Kawruh kodhok (enggone ngreti lan weruh marang kahanan sakubenge lan enggone ngrasakake rasaning kahanan kang kena dirasakake ing kodhok). Iku ya ayang-ayanganing NGELMUNE Pangeran.
    Solah tingkah muna-munining kodhok, dadi ayang-ayangan ing PAKARTINE Pangeran.
    Dadi : pangiloning kajaten, kang dienggo ngilo sahir kabiring kodhok iku pangilon goroh, awit kahanan jati ora kaya mangkono.
    Pangilon kang mangkono iku peteng tur geseh wanguning ayang-ayangane katimbang karo kanyatane kang ngilo. Kena di umpamakake : wong ngilo nganggo gendhul (botol) ireng, kang raene legak legok. Kajaba peteng (ora terang) ya geseh banget karo nyatane.
    Dadi kang jeneng ayang-ayangan mau : ENGETAN DALAH RASA PANGRASANING KODHOK, apa dene KAWRUHE  marang jagad.
    GUMELARING JAGAD kang diweruhi nganggo engetan dalah rasa pangrasaning kodhok mau : iya wis kalebu ing ayang-ayangan kang katon sajroning pangilon sajinis, kang aran alam kakodhokan.
    Engetan dalah rasa pangrasaning kodhok (kang dianggo ngawruhi ananing jagad dalah ananing awake) iku SAHIRING alam ka-kodhokan. Dene jagad donya (kang diweruhi nganggo engetan lan rasa pangrasa) iku : KABIRING alam ka-kodhok-an.
    Sahir tuwin kabiring alam kakodhokan mau, karo-karone ayang-ayanganing kahanan jati, kang katon ing pangilon goroh lan peteng, yaiku pangilon kang aran alam kakodhokan, iya martabat kakodhokan, iya daya tunggal sajinis (salaras) kang nganakake sahir kabiring kodhok.
    KANG NGILO : KAHANAN JATI
    Kang dienggo ngilo : daya tunggal sajinis, kang aran alam kakodhokan utawa martabat kodhok.
    Dene ayang-ayangane yaiku rasa pangrasaning kodhok dalah kawruhing kodhok marang gumelaring donya.
    Sahiring kodhok prenahe ing BATINING KABIRE. Pangilone kajaten prenahe ing BATINING SAHIRE kodhok. Kajaten kang ngilo pernahe : ing BATINING pangilon jati ($).
    —————————–
    ($). Tegesing tembung LAHIR sarta BATIN, katerangake ing bab 15.****
    II. Yen kahanan jati ngilo nganggo alam manusa (wong donya), kajaten katone saka ing kono awujud : DHIRINE WONG DONYA, yaiku : ENGETAN + RASA PANGRASA BADAN WADHAGE wong donya.
    Engetan sarta pangrasaning wong donya mau SAHIR tumrap alam manungsa. Dene KABIRE, yaiku : arupa bumi langit saisen-isene kabeh, kapetung dalah BEGOGOKING BADANE wong mau.
    Mulane kahanan kang kaya mangkono diarani AYANG-AYANGANING KAHANAN JATI, awit kahanan kaya mangkono mau DISENGGUH KAHANAN KANG TEMENAN, dening wong donya.
    Sarehne wong donya iku sahire korup marang kabire, mangka kabire mau KAWUJUDAN ING DONYA KANG WADHAG, Adadi : INGSUN KANG NGLUNGGUHI KAJATEN, katone saka alam manungsa iya wujud RAGANING wong donya : SIJI, yaiku awake kang disengguh nduweni engetan lan rasa pangrasa (sanajan satemene DUDU SI-RAGA kang marakake bisa kelingan lan bisa ngrasakake iku).
    Wong donya padha nduweni panganggep, yen dhirine iku  MUNG SIJI, kayata : wong kang aran si-Suta (dhewekw) iku sajagah mung ana siji thok.
    Dhiri kang diarani nganggo tembung AKU dening si-Suta, sajagad mung ana siji thok. Iku ayang-ayangan INGSUN.
    Mungguh RASANING WILANGAN SIJI KANG TUMRAPING DHIRINE : iku ayang-ayanganing KASAWIJENE KAHANAN JATI (INGSUN).
    Kawruhe si-Suta (lire : OLEH-OLEHANE saka enggone ngreti, ndulu lan ngrasakake lelawanan karo isining jagad) iku dadi ayang-ayangan NGELMUNING PANGERAN utawa KAWRUHING PANGERAN.
    URIPING PANCADRIYANE si-Suta : iku dadi ayang-ayangane GESANGING Pangeran. (Uriping wong yen katandhing lan gesanging Pangeran, iku pepindhane : uriping arloji katandhing uriping wong. Uriping wong iku mung “loop” dene matine “staal stil” tumrap Gesanging Pangeran).
    Solah tingkah muna-munining wong donya : dadi ayang-ayanganing PAKARTINE PANGERAN. (Pakartining Pangeran yaiku enggone nganakake sakabehing daya tunggal utawa kedher kodrat, kang banjur mujudake sakabehing sahir kabir).
    Dadi : pangilon kajaten  kang ayang-ayangane arupa sahir kabire si Suta iku, pangilon goroh, awit kahanan jati ora kaya mangkono nyatane. Pangilon kang mangkono iku peteng tur WANGUNING AYANG-AYANGANE GESEH KARO SABENERE, nanging luwih terang yen katimbang pangilon kang ayang-ayangane arupa sahir kabiring kodhok. Iku kena diupamakake wong ngilo nganggo raening gendhul kang ora pati ireng lan ora pati legak-legok.
    Dadi jeneng ayang-ayangan iku ENGETAN DALAH RASA PANGRASANE SI SUTA, apa dene KAWRUHE si Suta marang jagad.
    Kawruh (oleh-olehaning ngawruhi) marang gumelaring jagad kawruh kang cumithak ing dhirine : iya wis kalebu (kapetung) ayang-ayangan, …… Ayang-ayangan sajeroning pangilon sajinis, ….. pangilon sajinis kang aran alam manungsa mau, ringkese : KANG DIANGGO NGAWRUHI + KANG DIWERUHI + KAWRUHE (sahir kabire) ayang-ayangan sajroning pangilon sajinis, iya pangilon kang aran alam Kamanungsan, iya martabat kamanungsan, iya daya tunggal sajinis, (salaras) kang nganakake sahir kabire si Suta mau.
    KANG NGILO : KAHANAN JATI
    Kang dienggo ngilo : daya tunggal sajinis kang aran alam manungsa utawa martabat manungsa. Ayang-ayangane yaiku : engetane si Suta, rasa pangrasane si Suta, susurupane si Suta marang gumelaring donya : sahir kabire si Suta.
    Si Suta rumasa ANA, nekseni utawa nyatakake yen dheweke iku ANA temenan. Tandha yektine : duwe engetan lan rasa pangrasa kang dianggo ngawruhi lan ngrasakake gumelaring jagad banjur calathu : AKU ANA.
    Kang diarani AKU dening si Suta mau DHIRI siji. (Terang gamblanging kang diarani dhiri, kapratelakake ing bab : 14, iya dhiri iku ayang-ayanganing kahanan jati : INGSUN PRIBADI).
    Aku ana ….. iku tegese : dhirine si Suta mau maujud utawa mandeg.
    Tegese : ANA, kang tumrap dhiri si Suta, kang ateges maujud mau ayang-ayanganing ANANE kahanan jati.
    Dadi AYANG-AYANGANING ANA : iku MAUJUDE utawa MADEGE, nanging ANA KANG SEJATI iku tegese : KANG BISA NGANAKAKE SALIRING KANG MAUJUD, utawa : KANG MENGKU WUJUD LAN KANG ORA MAUJUD. Dadi KAHANAN SAJATI : iku tanpa wiwitaning ana, tanpa wekasaning ana.
    Anane dhiri : nganggo wiwitan lan wekasan. Nanging…..  ora ana dhiri kang weruh wiwitaning madege. Ora ana dhiri kang bisa nekseni SADURUNGE ANA karo SAWUSE ANA. Bisane duwe  RASA DHIRI bareng dhiri mau wis…… ana. Dadi : sarupane kang dikawruhi lan dirasakake dening si Suta iku : tumrap engetan lan rasa pangrasane si Suta : ANYAR KABEH.
    Jagad donya luwih keri anane : tumrap engetan dalah rasa pangrasane si Suta. Bapa biyung iya luwih keri anane : tumrap rasaning engetan. Enggone ngarani keri katimbang biyunge iku satemene mung KABAR saka enggone nundha warta bae. Tumrap engetan dalah rasa pangrasane si Suta dhewe : ora nyata yen dheweke keri, ora nekseni, ora ngalami, awit dumunung sajroning engetane (kaelingane). Rehne mangkono, dhirine si Suta : rumasane iya DHISIK DHEWE katimbang sakehe kawruh kang diwenehi nganggo engetane.
    RASA DHISIK DHEWE mau ya dadi ayang-ayangane ing kidame Pangeran (dhisik dhewe tanpa kawitan tumrap kahanan jati).
    Dhirine si Suta nganggo wekasan, dadi ora langgeng. Nanging sajroning wektu dhiri mau madeg, ora ngrasakake marang kang aran wekasan, mung ndeleng ING KABIRE yen wong mati iku ana. Dene prakara ndeleng wong mati, iku dudu kanyatan tumrap rasa dhirine, (yaiku sababe arang banget wong donya kang nduweni pangraita lan pamikir prekara mati. Iya bener kerep ndeleng wong mati, nanging ora kalebu ing rasa pangrasa (ora klebu dadi pangalaman, sajroning wektu dhiri mau isih madeg).
    Enggone ora ngrasakake marang wekasan mau iya dadi ayang-ayanganing kalanggengane pangeran.
    Mangsa kang dienggoni dening si Suta diarani : SAIKI. (dienggoni tegese dirakake).
    Saiki KANG ATEGES WEKTU mau ya dadi ayang-ayanganing saiki KANG MENGKU SALIRING WEKTU, arane ing basa Arab : kanjanmahfiyan.
    Ora ana dhiri bisa ngrasakake marang BIYENE utawa mBESUKE. Kang dirasakake ora liya yang mung SAIKINE. Lire wong kelingan lakon biyen, enggone kelingan mesthi ana ing SAIKI mangkono uga mBESUK, iya digagas ing SAIKI. Dadi RASA BIYEN KARO RASA mBESUK ora ana kabeh. Kang ana mung RASA SAIKI. Iya RASA SAIKI iku ayang-ayanganing SAIKINING PANGERAN,  kang mengku saliring mangsa.
    Si Suta yen ngarani panggonan kang lagi dienggoni, nganggo tembung : KENE.
    Kene KANG ATEGES PANGGONAN iku, ayang-ayanganing kene, kang ateges :KANG MENGKU SALIRING ARAH LAN ENGGON. Arane ing basa Arab : ngaras kursi.
    Ora ana dhiri bisa ngrasakake marang KANANE. Kang dirasakake ora liya ya KENENE, iku pamikir lan nggagas kahanan kang diarani ANA ING KANA, iku pamikir lan panggagase mesthi ANA ING KENE. Iya RASA KENE KANG TUMRAP PANGGONAN iku ayang-ayanganing KENENE PANGERAN, kang mengku saliring enggon.
    SAHIRE si Suta prenahe ing BATINING KABIRE si Suta.
    Pangiloning kajaten, prenahe ing  :  batining sahire : SI Suta.
    Kajaten kang ngilon, prenahe ing : BATINING PANGILON.
    III. YEN kahanan jati ngilo nganggo : ALAMING RASA KASWARGAN, kajaten katone saka ing kono awujud dhiri wong swarga, yaiku : ENGETAN PADHANG + RASA ADHEM LAN SENENG +BLEGERING BADANE ALUS,  kang kadadeyan saka bebakalaning Mutmainah. (ngelingana bab rasa lelima, kang kasebut ing bab 11).
    Engetan lan rasa pangrasaning wong swarga mau SAHIR : tumrap alaming wong swarga. Dene KABIRE, yaiku : gumelaring swarga, kapetung dalah blegering dhiri dhewe.
    Mulane diarani : AYANG-AYANGANING KAHANAN JATI, awit kahanan kang mangkono iku DISENGGUH KAHANAN KANG SANYATA-NYATANE, dening wong swarga.
    Prekara liya-liyane kang mratelakake ANANE lan KAHANANE : ora prelu karonce maneh, cukup nganggo tuladha pangalamaning wong donya kang kasebut mau.
    Ayang-ayanganing kahanan jati kang katon ing martabat kadewan, kajiman, kasetanan lan liya-liyane, uga cukup nganggo tuladha siji ing ngarep. Bab tataraning pepadhange, goroh temene lan rasane, ….. kiraku kang maca iki mesthi bisa nimbang dhewe.
    IV. YEN KAHANAN JATI  ngilo nganggo martabat tetuwuhan utawa watu, kajaten katone saka ing kono : PETENG, ora katon apa-apa, ora krasa apa-apa. Lire tanpa kaelingan apa-apa. Iku kena diumpamakake wong ngilo nganggo blabag ireng. Ing blabag ireng mau digoleki rupane kang ngilo : ora ana apa-apane.
    Tetuwuhan tak tembungake ORA DUWE RASA DHIRI, ora ngreti yen dhirine ANA, ora sumurup yen jagad iku ANA, ora ngreti yen Pangeran ANA. Kajaba ora ngreti marang ANANE MAU KABEH, ya ora ngerti yen DHEWEKE ANA, sarta ora ngreti yen dheweke ORA DUWE PANGERAN, utawa KAELINGAN.
    Tetuwuhan sarta watu kena diupamakake : netepake yen jagad gumelar iku ORA ANA. Pangeran ORA ANA. Kahanan siji bae ORA ANA, ORA ANA KAHANAN. Ora pisan-pisan nekseni marang ananing kahanan kabeh. Kekembangan kang endah, nyenengake, arum gandane, dialembana ing Manungsa sarta disawang dening para luhur ana ing tengahing meja marmer, ora pisan-pisan bisa ngreti yen dheweke ana, ora nyana disenengi lan dialembana. Padha bae karo wayang, kayata : Janaka, ditonton sarta disawang wong akeh, nanging kang disawang mau ora sumurup yen ana. Ora kanggonan ing bungah susah lan lara kapenak. Nanging peteng ndhedhet limengan. Ora ngreti apa-apa. Ora ngrasakake panandhang, lan ora ngrasa marang nikmat lan mupangat.
    V. YEN KAHANAN JATI ngilo nganggo Pramana sajati (sipat maknawiyah), kajaten katon sawungkuling Sipat kang nyata sanyata-nyatane ing Pangeran piyambak. ($)
    ——————————-
    ($). Kodrat, Iradat, sapanunggalane, (kang kasebut ing dhuwur mau) ka-aranan sipat mangani, yaiku kang awujud jirim. Dene : kodiran muridan sapanunggalane : karanan sipat maknawiyah, awor karo “DZAT”
    READ MORE - PANGILON LAN AYANG-AYANGAN

    LABEL

    kajian (71) koplo (52) KEJAWEN (32) PALAPA (22) HOUSE MIX NONSTOP (20) KOPLO RELIGI (17) KOPLO SERA (17) KOPLO MONATA (14) PENGAJIAN UMUM (14) RAMADHAN (14) RGS (12) sejarah (11) TEMBANG KENANGAN (10) campursari (10) KOPLO ELECTON (9) gending (9) saridin (9) KOPLO NEW COBRA (7) KOPLO SONATA (6) SEJARAH ISLAM (6) TOPRAK (6) KOPLO PANTURA (5) FAKTA DALAM ISLAM (4) IMSAKIYAH RAMADHAN (4) KOPLO LOKAL PONOROGO (4) KOPLO MUSTIKA (4) TIPS (4) dangdut (4) KOPLO AVITA (3) KOPLO RD 26 (3) KOPLO TEPOS (3) SYA'BAN/RUWAH (3) radio streaming (3) ASSALAM RELIGI (2) JARANAN SAFITRI PUTRO (2) KOPLO KANAYA (2) KOPLO NIRWANA (2) KOPLO ONE PALLAPA (2) KOPLO PRIMA (2) KOPLO SABHARA (2) KOPLO SAKATTO (2) KOPLO SAVANA (2) KOPLO SUFEDA (2) LIRIK SHOLAWAT (2) MONATA RELIGI (2) MOTIVASI (2) PALLAPA RELIGI (2) RGS RELIGI (2) SHOLAT (2) 10 JEMBATAN TERPANJANG DI DUNIA (1) 10 JEMBATAN TERPANJANG DI INDONESIA (1) 10 NEGARA TERAMAH DI DUNIA (1) 10 SAMUDRA TERLUAS DI DUNIA (1) 10 SUNGAI TERPANJANG DI DUNIA (1) 10 TEMPAT WISATA KEBANGGAAN INDONESIA YANG TERKENAL DI DUNIA (1) 15 PENEMUAN PERTAMA DI DUNIA (1) ADI LARAS RELIGI (1) AKHIR ZAMAN (1) AL BAROKAH RELIGI (1) AL HATI RELIGI (1) AL HIDAYAH RELIGI (1) AL LADUNI RELIGI (1) AL MUNAJAT RELIGI (1) AMPEL'S RELIGI (1) ANGIN PUTIH BELIUNG (1) ANJENITA RELIGI (1) ARSADA RELIGI (1) ASSYIFA RELIGI (1) BIANGLALA (1) BRICK BRIKAN (1) DAFTAR KEPALA NEGARA DI DUNIA (1) DAFTAR NAMA DANAU DAN WADUK DI INDONESIA (1) DAFTAR NAMA DESA DAN KODE POS DI PONOROGO (1) DAFTAR NAMA KOTA DAN KABUPATEN DI JAWA TIMUR (1) DAFTAR NAMA NAMA ANAK HEWAN (1) DAFTAR NAMA NAMA BANDARA DI INDONESIA (1) DAFTAR NAMA NAMA GUNUNG DI INDONESIA (1) DAFTAR NAMA NAMA MATA UANG DUNIA (1) DAFTAR NAMA NAMA NEGARA DAN IBU KOTANYA (1) DAFTAR NAMA NAMA STADION SEPAK BOLA DI INDONESIA BESERTA KOTA DAN KAPASITAS PENONTON SEKALIGUS KANDANG DARI KLUBNYA (1) DAFTAR NAMA PONDOK PESANTREN DAN ALAMATNYA DI PONOROGO (1) DANGDUT GT JTV SURABAYA (1) DANGDUT JTV (1) DELAPAN SUNGAI TERKENAL DI INDONESIA (1) DHAYANG (1) DHENTA RIA RELIGI (1) DO'A (1) Download dan lirik lagu TAMPANI DHUWITE Cipt.Dalang poer (1) Download lagu TAMPANI DHUWITE Cipt.Dalang poer (1) EL ROSNAWA RELIGI (1) EL SHINTA RELIGI (1) EVIE TAMALA DAN KH AAD AINURUSSALAM (1) FIFA World Cup 2014 DI BRASIL (1) GOYANGO REK (1) HABIB SYEH (1) IDUL FITRI (1) JADWAL IMSAKIYAH RAMADHAN 2014M/1435H (1) JADWAL IMSYAKIYAH RAMADHAN 1436 H / 2015 M (1) JADWAL MOTOGP 2013 (1) JADWAL PERTANDINGAN PIALA DUNIA FIFA World Cup 2014 DI BRASIL JADWAL PERTANDINGAN PIALA DUNIA 2014 (1) JARANAN CITRA BUANA JOMBANGAN (1) JARANAN KUDA BIRAWA (1) JARWO DHOSOK (1) JENENG JENENGE GODONG UTAWO NAMA NAMA DAUN (1) JENENGE ANAK ANAK KEWAN (1) JENENGE ISINE WOH WOHAN UTOWO NAMA NAMA ISI BUAH BUAHAN (1) JENENGE KEMBANG UTOWO NAMA NAMA KEMBANG (1) JENENGE PENTILE WOH WOHAN UTOWO NAMA NAMA BUAH BUAHAN YANG MASIH MUDA (1) JENGKAL PANUWUN RELIGI (1) KAKANG KAWAH RELIGI (1) KALIMOSODO RELIGI (1) KATA KATA DALAM DUNIA MAYA (1) KEUNIKAN KUNANG KUNANG (1) KHOSIDAH CAMPURSARI DJANDHUT (1) KODE AREA TELPON NEGARA DI DUNIA (1) KOPLO ARSIKA (1) KOPLO AXARA (1) KOPLO BALADEWA (1) KOPLO BINARIA (1) KOPLO DIANA (1) KOPLO KI SABRANG (1) KOPLO MADEWA (1) KOPLO MAHKOTA (1) KOPLO NAWANTA (1) KOPLO NEW MAHKOTA (1) KOPLO NEW TW (1) KOPLO OHMABBA (1) KOPLO PANDJALU (1) KOPLO PANORAMA (1) KOPLO PATROLAN (1) KOPLO PERSADA PROBOLINGGO (1) KOPLO PUTRA DEWA ROCK DANGDUT (1) KOPLO RADESTA (1) KOPLO RATNA ANTIKA (1) KOPLO RENA KDI (1) KOPLO RKM (1) KOPLO SAGITA (1) KOPLO SAHARA PROBOLINGGO (1) KOPLO WALI BAND (1) KOPLO WARAS (1) KUSUMA LARAS (1) Kode Plat Nomor kendaraan Bermotor Indonesia (1) LANGEN BUDOYO RELIGI (1) MANDALLA MUSIC PURWANTORO (1) MEKAR SARI DAN TABLA MUSIK (1) MQ TEBU IRENG (1) MUSIK HOLIC (1) NADA UTAMA RELIGI PONOROGO (1) NAMA KOTA SE INDONESIA (1) NAMA NAMA BUPATI PONOROGO (1) NAMA NAMA SUNGAI DI INDONESIA (1) NEOSARI (1) NEW COBRA RELIGI (1) NGAJI BERSAMA MBAH BOLONG/KH NUR HADI (1) NIKMAT HIDUP (1) PADANG BULAN 2 (1) PAKAIAN (1) PALAPA RELIGI (1) PEDANG LEGENDARIS DUNIA (1) PERIBAHASA JAWA (1) PONPES SUNAN DRAJAD RELIGI (1) PRIMA RELIGI (1) PRIMAVERA (1) PUASA (1) PUSPITO LARAS DANGDUT CAMPURSARI (1) PUTRA DEWA RELIGI (1) Pandowo fm Tulungagung Jawa Timur (1) QOSIDAH ANAK (1) RAJAB (1) REBANA DARUSSALAM (1) RENDYSKA (1) RISBA RIA RELIGI (1) ROLLIESTA (1) RUMAH ADAT (1) SAHARA TIMUR RELIGI (1) SAREY DUT DAN MARGOJATI JOLOSUTRO (1) SAWUNGGALING RELIGI (1) SEKAR JAGAD RELIGI (1) SEKAR MAYANG (1) SENJATA TRADISIONAL (1) SERA RELIGI (1) SHOUTUL FATA RELIGI (1) SUKU DI INDONESIA (1) SYI'IRAN WALI VOLUME 2 (1) SYI'IRAN WALI VOLUME 3 (1) TAKBIRAN (1) TARIAN (1) WAHANA RIA RELIGI (1) ZUHRIYA NADA RELIGI (1) didi kempot (1) facebook (1) full dangdut 24 jam (1) lagu nasional (1) lirik lagu TAMPANI DHUWITE Cipt.Dalang poer (1) lirik lagu campursari didi kempot prapatan sleko (1) pas fm Tulungaung (1) prapatan sleko mediun (1) remaja (1) suara giri fm gresik (1) wijaya fm surabaya (1)